Tampilkan postingan dengan label Kota Pasuruan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota Pasuruan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Desember 2012

Masjid Agung Al Anwar (Masjid Jami') Pasuruan

Masjid yang berdiri megah di depan alun-alun Kota Pasuruan ini merupakan bangunan bersejarah yang dibangun lebih dari lima abad yang lalu oleh Mbah Slagah seorang tokoh pejuang Islam di pasuruan. Bangunan seluas 3000 m2 yang di bangun diatas tanah yang seluas 3600 m ini bercorak Timur Tengah dan modern.

Masjid yang telah beberapa kali mengalami pemugaran ini tetap konsisten menjaga gaya arsitkturnya yang khas serta kaya dengan detail-detail menarik. Bentuk ornamennya adalah kaligrafi Arab dalam bentuk-geometris, hampir semua ornamen di dinding asli sejak saat didirikannya.


Masjid Agung Al Anwar saat ini menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan umat Islam di kota pasuruan. Setiap malam rabu di masjid ini diadakan kegiatan pengajian rutin.

Di bagian belakang masjid terdapat makam ulama dan tokoh-tokoh penting, antara lain makam Adipati Nitiadiningrat serta makam KH. Abdul Hamid seorang tokoh pendiri Pondok Pesantren Salafiyah yang mempunyai kharisma cukup besar. Itulah sebabnya masjid ini menjadi salah satu tujuan bagi para peziarah yang datang dari berbagai daerah, bahkan saat ini tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata religi bagi para peziarah yang melakukan perjalanan ke makam Wali Songo.

(sumber: Dinas Infokom & komunikasi Kota Pasuruan)


MELURUSKAN MENARA MASJID yang MIRING

Masjid jami’ al-Anwar adalah pusat peribadatan terbesar di Kota Pasuruan. Hal ini dapat ditinjau dari banyaknya masyarakat yang suka beri’tikaf, shalat jamaah dan ibadah yang lainya, yang mana memang setiap hari tidak pernah pasang surut di dalamnya. Ditambah lagi dibelakang masjid jami’ al-Anwar ini terdapat makam para Auliya’illah Pasuruan di antaranya adalah: KH. Mas. Imam Bin Thohir, KH. Abdul Hamid, al-Habib Ja’far Bin Syaikhon as-Segaf (guru Kyai Hamid), dan banyak lagi para Auliya’ yang lain di sana. Hubungan Masjid Jami’ al-Amwar dengan para Auliya’ yang dimakamkan dibelakangnya tersebut sangatlah kental, dan kalau berbicara masalah Auliya’ dan Masjid Jami’ al-Anwar, tidak lengkap rasanya kalau kita tidak berbicara tentang sejarah yang bersangkutan dengan masjid ataupun seseorang yang berpengaruh dalam sejarah berdirinya masjid tersebut.

Sebut saja nama Kyai Hamid, memang pada zamannya (zaman Kyai Hamid) seluruh masalah yang ada selalu dirujukkan kepada beliau. Dahulu, waktu proses pembangunan masjid kebanggaan umat Pasuruan, para takmir masjid juga punya rencana ingin membangun menara. Setelah musyawarah akhirnya tempat yang cocok dibuat menara sudah diputuskan yakni disebelah selatan masjid, dalam musyawarah tersebut ada seseorang yang mengusulkan agar memeriksakan tanah yang akan dibangun itu ke laboratorium di Surabaya terlebih dahulu, hal ini ditujukan agar dapat diketahui apakah tanah itu dapat menahan goncangan ketika ada gempa atau tidak.

Penggalian pondasi yang pertamapun dilakukan, dan ketua takmir pada waktu itu mengambil segenggam tanah dan ditaruh didalam tas kresek. Setelah itu tak lama kemudian tas kresek yang berisi tanah tersebut langsung dibawa ke Surabaya. Ketika sampai di tempat yang dituju, tas kresek yang berisi tanah itu langsung diberikan kepada para ilmuan disitu dan ternyata hasilnya nihil serta tidak dapat dideteksi karena takmir masjid Pasuruan kurang tahu tentang masalah tanah yang akan diperiksakan itu. Tanah yang dibawa tadi sudah terkena udara atau tercampur dengan suatu benda atau zat-zat yang lainya sehingga tidak bisa diperiksa. Sedangkan tanah yang dibawa oleh ketua takmir masjid jami’ al-Anwar ini hanya dibungkus tas kresek, dan pastinya tanah yang dibawa itu juga telah tercampur dengan udara luar atau sudah tidak steril lagi.

Akhirnya ketua takmir pulang dan menceritakan hal yang terjadi kepada seluruh takmir yang lainnya. Musyawarah yang keduapun dilakukan, dan pokok pembahasannya kali ini adalah, apakah pembangunan terus dilakukan ditempat itu atau dipindah pada tempat yang lainnya. Tak lama kemudian, sudah ada keputusan bersama bahwasannya pembangunan tetap dilakukan di tempat tersebut.

Esok harinya pembangunan menara masjid jami’ al-Anwar sudah mulai digarap dan selesai dengan batas hari yang telah ditentukan. Rampungnya pembuatan menara tersebut ternyata masih menyisakan sedikit kecemasan dalam hati para takmir, para takmir masih kuatir akan kekokohan menara tersebut. Alhasil, keesokan harinya salah seorang takmir melihat menara masjid jami’ itu seperti doyong (miring) ke arah selatan. Melihat itu semua para pengurus takmir masjid langsung bermusyawarah kembali untuk mengambil kesepakatan apakah menaranya dibongkar atau tidak. Di sepanjang jalannya musyawarah ternyata banyak kesimpang siuran pendapat yang mengakibatkan mengalami kebuntuan dalam menemukan jawaban dan pada akhirnya setelah musyawarah usai hasilnya tetaplah nihil.

Keesokan harinya ketua ta’mr masjid jami’ melihat menara masjid kembali, dan ternyata kecondongan menara itu bertambah, kecemasanpun semakin bertambah. Ketika ketua takmir itu merenungkan masalah, ada seorang takmir yang memberikan solusi, “bagaimana kalau kita sowan ke Kyai Hamid barangkali diberi solusi yang tepat sama beliau”. Tanpa pikir panjang akhirnya kedua takmir itupun langsung bergegas menuju kediaman Kyai Hamid yang lokasinya tak begitu jauh dari masjid. Ketika bertemu dengan Kyai Hamid kedua takmir itu mencurahkan segala kegundahan mereka terkait dengan masalah menara masjid jami’. Akhirnya Kyaipun menyuruh mereka berdua pulang sembari berkata, “wes sampean moleo engkok tak dunga’no”(ya sudah anda berdua saya do’akan, ujar beliau.

Setelah takmir masjid Jami’ al-Anwar itu sowan ke Kyia Hamid, keesokan harinya terjadi gempa bumi yang kurang lebih selama 3 menit. Semua masyarakat bertambah panik, mereka semua takut akan menara yang sudah miring itu jadi roboh menimpa rumah penduduk, akan tetapi setelah gempa tersebut apa yang terjadi, bukannya menara yang roboh melaikan menara masjid Jami’ yang tepat berada di jantung kota Pasuruan tersebut menjadi lurus seketika. Pakah ini berkat do’a romo Kyai Hamid? Wallohu a’lam… (zen)

Sumber: Gus Ali Ahmad Sahal
http://salafiyah.org/

Sejarah perkembangan perkeretaapian di PASURUAN


Halaman Stasiun Pasuruan (sekitar tahun 1934)
Pemerintah Hindia Belanda memberikan konsesi kepada perusahaan kereta api swasta Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (PsSM) pada tahun 1893. PsSM mendapat konsesi untuk membangun jalan rel di kota Pasuruan dan sekitarnya hingga ke Wonorejo. Pada tahun 1896 - 1912, PsSM telah berhasil membangun jalan rel dengan total panjang 32 km. Saat itu rute ini dianggap sangat penting karena di Umbulan terdapat sumber air yang sangat besar dan perkebunan tembakau.PsSM mendatangkan 1 lokomotif C25 dari pabrik Hanomag (Jerman),10 lokomotif B16 didatangkan pada tahun 1896 - 1900 dari pabrik Hohenzollern (Jerman).


Tram dengan lokomotif uap ini memudahkan masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Pada saat itu, kehadiran tram dengan cepat mendapat sambutan baik dari masyarakat yang sebagian besar masih memanfaatkan transportasi tradisional, seperti kuda atau pedati. Di samping harga tarifnya yang cukup terjangkau, tram dianggap lebih cepat dibanding alat transportasi darat apapun saat itu.

Selain digunakan untuk menarik kereta penumpang, lokomotif ini juga digunakan untuk menarik gerbong barang yang berisi hasil bumi untuk diangkut ke pelabuhan,selain itu Tram ini digunakan untuk angkutan penumpang dan barang/hasil bumi. Tram dengan lokomotif uap ini digunakan untuk menarik rangkaian gerbong barang yang berisi gula.

Stasiun Pasuruan (PS) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Trajeng, Gadingrejo, Pasuruan. Stasiun yang terletak pada ketinggian +3 m dpl ini termasuk ke Daops 9 Jember, dan menjadi batas baratnya. Stasiun ini termasuk tipe sisi. Stasiun Pasuruan merupakan salah satu stasiun KA tertua di Jawa Timur, dibangun pada paruh terakhir tahun 1870-an. Mengingat kepentingannya, stasiun itu dibangun tak jauh dari Jalan Raya Pos (kini menjadi Jl. Soekarno-Hatta), dan dihubungkan dengan Jl. Stasiun, yang di sekitarnya terdapat pasar.
Pada 16 Mei 1878 Jalur Kereta oleh Staatsspoor-en Tramwegen in Nederlandsch-Indië (Kereta Api Negara) dibuka antara Surabaya dan Pasuruan
Stasiun Kereta Api Warungdowo.
Jalur kereta api dari Stasiun Kereta Api Warungdowo-Purwosari dan Warungdowo-Ngempit di buat pada tahun 1933
Peta tram lori Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (PsSM)

jalur trayek & stasiun/haltenya


WONOREJO-WARUNGDOWO

0 Wonorejo

2 Kluwut 2

4 Arengareng

5 Pacarkling

7 Kurung

8 Gambiran

10 Wangkalklojen

11 Warungdowo



PASURUAN-WINONGAN

0 Pasuruan

0.3 Pasuruanchinesekamp (halte)

9.7 Pasuruanalunalun (halte)

1.4 Pasuruanbui (halte)

3.2 Kebonagung 2 (halte)

4.2 Rogoitan (halte)

4.8 Pohjentrek(halte)

6.3 Pleret (halte)

6.2 Warungdowo (halte)X

7.3 Pengkol 2 (halte)

8.3 Pengkolwesel (halte)

9.3 Ranggeh (halte)

9.8 Gayam 2 H (halte)

11 Wonosalam (halte)

13 Tenggilis (halte)

14 Klatek (halte)

15 Penataan (halte)

17 Winongan (halte)

Winongan
ngempit
waroengdowo
Map Of ALKMAAR (Purwosari)
Alkmaar, now Purwosari.. 1914
Stasiun Kereta Api Pasuruan (foto 2009)








Sumber:


http://www.facebook.com/pages/PsSM-Pasoeroean-Stoomtram-Maatschappij/
http://www.facebook.com/Warung.Kopi.Pasuruan/
http://maps.kit.nl/
http://semboyan35.com/showthread.php?pid=164080
http://www.semboyan35.com/printthread.php?tid=1603&page=2

Permainan tempo doeloe (dolanan djaman mbijen)

Permainan tempo doeloe merupakan permainan Tradisional yang merupakan warisan turun temurun, ini merupakan Aset Budaya Bangsa yang harus di lestarikan dan di kembangkan seiring kemajuan zaman. Kita mungkin sudah melupakan maupun tidak mengajarkan kepada generasi penerus ini, namun seiring kemajuan teknologi memang saat ini anak-anak cenderung bermain dengan permainan elektronik dan internet, apalagi sekarang maraknya jejaring sosial dan BBM yang tidak menutup kemungkinan seusia anak-anak sudah menikmatinya.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menjungjung tinggi nilai-nilai Sejarah dan Budayanya” artinya kita jangan begitu saja melupakan sejarah dan budaya  yang pernah ada di negeri yang kita cintai ini.
Banyak sekali permainan tradisional yang mungkin selama ini terlewatkan begitu saja seperti Main Kelereng, Petak Umpet, Bekel, Benteng-bentengan, Gobak Sodor, Main Engklek, Boi-boian dll, Semoga dengan hadirnya artikel ini kita bisa mengenang dan mengingat masa kecil dulu dan dapat mewariskan kepada generasi penerus kita. 
Berikut adalah beberapa permainan tempo doeloe (dolanan jaman mbiyen) yang ada disekitar kita:

Main Kelereng / Gundu
Kelereng (atau dalam bahasa Jawa disebut nèkeran) adalah mainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca, tanah liat, atau agate. Kelereng adalah mainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca atau tanah liat. Ukuran kelereng sangat bermacam-macam, umumnya ½ inci (1.25 cm) dari ujung ke ujung.
Orang Betawi menyebut kelereng dengan nama gundu. Orang Jawa, neker. Di Sunda, kaleci. Palembang, ekar, di Banjar, kleker dan di bagian Riau Pesisir disebut permainan Guli.

Permainan Gundu atau Klereng bisa di mainkan di mana saja, tanpa ada lapangan yang khusus, tapi  ada beberapa gaya dalam permainan ini antara lain :
1.    Poces
2.    Lubang

Poces   
Beberapa pemain  masing-masing sudah mempersiapkan gundu/Klereng sebanyak-banyaknya, karena dalam permainan ini mereka bertaruh atau memakai cara membayar dengan Gundu/ klereng juga. Tergantung  kesepakatan para pema-in.
Cara bermain  : Mereka membuat bunderan / lingkaran  kecil  untuk menyimpan gundu/kle –reng . bunderan / lingkaran biasanya  di buat memakai kapur tulis , arang  atau apa saja yang bisa terlihat.
Para pemain mengumpulkan gundu/ klereng  di dalam Bunderan/ lingkaran terse-but. Kalau kesepakatan memasang 5 buah gundu/ klereng maka semuanya mema-sang 5 buah gundu/ klereng. Kalau pemain jumlah 3 orang , maka Gundu/ klereng di dalam kotak itu ada 15 buah. jadi lingkarannya agak besar.
Para pemain melempar gundu/ klereng di garis Pidi. Jarak  garis Pidi ke lingkaran yang ada kelrengnya/ gundu  panjangnya 1 meter.
Para pemain berusaha mengenai gundu/klereng yang ada di dalam lingkaran tersebut. Kalau kena, lalu gundu/ klereng yang tergeser ke luar lingkaran  maka gundu/ klereng itu sudah menjadi milik pemain. Kemudian yang jalan terlebih dahulu , ialah yang paling dekat dengan lingkaran. Kalau gundu/ klereng  sudah kabis di dapatkan pemain yang pertama, maka pemain itu di anggap memang, lalu mematikan gundu para gocoannya. Antiknya permainan ini, kalau pemenang gundu/klereng yang sudah menghabiskan yang ada di lingkaran, kemudian gacoannya di kalahkan oleh peserta yang lain (peserta yang belum mati) maka semua gundu/ klereng pasangan tadi milik orang yang mengalahkannya.

Lubang
Para pemain  membuat lubang kecil, untuk memasukan gundu/klereng ke dalamnya, jaraknya 1 meter dari garis pidi.
Yang pertama jalan ialah yang kelereng / gundu masuk lubang atau yang lebih dekat dengan lubang.
Cara bermain : Yang jalan lebih dulu ialah di lihat/di ukur gundu/klereng yang dekat dengan lubang. Pertama  memasukan gundu/klereng ke lubang, kalau masuk maka dia boleh menembak gundu musuh-musuhnya. Kalau yang jalan pertama tidak dapat memasukan kelereng ke dalam lubang, maka di lanjutkan dengan pemain ke dua, yaitu yang terdekat ke dua dari lubang. Pemenangnya adalah mereka yang mendapatkan gundu lebih banyak, yaitu mematikan lawan-lawannya dengan cara mengenai sasaran gundu/klerengnya ke gundu.klereng lawan.


Permainan Petak Umpet
Petak umpet atau dalam bahasa Inggris Hide and Seek adalah salah satu permainan tradisional anak-anak yang sudah sangat terkenal. Selain di Indonesia permainan ini juga sangat digemari oleh anak-anak diluar negeri. Untuk memainkan permainan ini, kita membutuhkan banyak orang minimal 4 atau 5 orang. Permainan ini sangat populer dibanding permainan tradisional yang lain karena permainan ini sangat mengasikan dan juga banyak manfaatnya.

Cara bermain petak umpet .
Permainan dilakukan dihalaman atau lapangan dengan menyiapkan tiang sebagai  penunggu / penjaga . Lalu  mengundi  para peserta pemainnya dengan cara menunjuk siapa yang menjadi  penjaga Tiang.  Salah satu murid biasanya langsung di tunjuk untuk menjadi penjaga tiang, maka yang lainnya bersembunyi, atau ngumpet. Penjaga menunggu tiang, sambil memejamkan mata, menunggu aba-aba dari yang mengumpet/ bersembunyi. Setelah  terdengar kode dari yang sembunyi, maka penjaga mencari ke tempat-tempat persembunyian. Apa bila penjaga menemui yang bersembunyi, maka mereka lari ke arah  tiang, saling mendahului. Apa bila yang bersembunyi paling dulu menyentuh tiang, maka yang jaga tetap dia, tapi kalau tiang itu di pegang/ sentuh oleh yang jaga, maka  yang bersembunyi yang menjaga tiang. Begitu  seterusnya. 

Bekel
Permainan menggunakan bola karet kecil dan lima buah ‘bekel’ . Ada lima tahap dilalui yaitu, tahap pertama sambil duduk , bola dilemparkan kira-kira setinggi kepala, selama bola di udara bekel diambil satu-satu, lalu diambil dua-dua, sampai lima limanya diambil. Tahap kedua: ‘pit’, Ketiga: ‘ro’, Keempat ‘klat’, kelima ’s’. Maksud saya disini, bekel harus diubah menurut posisi menurut urutan. Tahap keenam , Naspel. Waktu ‘naspel’, bekel diubah posisi seperti tadi hanya saja pemain tidak boleh terlihat gigi. Bila gagal, ganti pemain lain.


Benteng-Bentengan
Permainan bentengan adalah salah satu dari permainan tradisional. Di daerah lain permainan ini juga dikenal dengan nama rerebonan, prisprisan, omer, dan jek-jekan. Dalam permainan bentengan sekelompok anak-anak membagi diri menjadi dua kelompok yang akan saling berlawanan. Setelah terbentuk dua kelompok yang saling berhadapan, mereka mencari posisi masing-masing sebagai basis mereka atau yang di sebut dengan benteng. Biasanya sebuah tiang atau pilar. Permainan ini tidak menggunakan alat apa pun. Masing-masing benteng kedua belah pihak harus terletak agak berjauhan dan dapat dilihat oleh satu sama lain.
Biasanya permainan ini dimulai dengan majunya salah satu pemain daribentengan-1 salah satu benteng untuk menantang para pemain dari benteng lawannya. Pemain dari benteng lawannya akan maju untuk mengejar. Jika pemain dari benteng penantang ini dapat terkejar dan dapat disentuh oleh pemain lawan, maka pemain penantang dijadikan sebagai tawanan. Biasanya pemain penantang akan berlari menghindar atau kembali ke bentengnya sendiri. Teman-teman dari benteng penantang ini, akan mengejar pemain dari benteng lawan yang memburu tadi. Demikian seterusnya sehingga terjadi saling kejar mengejar antara pemain dari kedua benteng. Sering kali terjadi adalah salah satu benteng kehabisan pemain karena ditawan dan bentengnya dikepung oleh lawannya. Para pengepung ini, dapat membebaskan teman-temannya yang menjadi tawanan. Setelah dibebaskan, para mantan tawanan ini dapat turut mengepung benteng lawannya. Sisa pemain dari benteng yang terkepung, dapat mengejar para pengepung untuk mempertahankan bentengnya, atau balik mengirimkan penyerang ke benteng pengepung jika benteng para pengepung tidak ada penjaganya

Gobag Sodor
Istilah permainan Gobag sodor dikenal di daerah jawa tengah , sedangkan di daerah lain seperti galah lebih dikenal di Kepulauan Natuna, sementara di beberapa daerah Kepulauan Riau lainnya dikenal dengan nama galah panjang. Di daerah Riau Daratan, permainan galah panjang ini disebut main cak bur atau main belon. Sedang di daerah jawa barat di kenal dengan nama Galah Asin atau Galasin.

gobak Sodor adalah sejenis permainan daerah dari Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 - 5 orang.

 
Cara melakukan permainan ini yaitu dengan membuat garis-garis penjagaan dengan kapur seperti lapangan bulu tangkis, bedanya tidak ada garis yang rangkap, Gobak sodor terdiri dari dua tim, satu tim terdiri dari tiga orang. Aturan mainnya adalah mencegat lawan agar tidak bisa lolos ke baris terakhir secara bolak-balik. Untuk menentukan siapa yang juara adalah seluruh anggota tim harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.
Anggota tim yang mendapat giliran “jaga” akan menjaga lapangan , caranya yang dijaga adalah garis horisontal dan ada juga yang menjaga garis batas vertikal. Untuk penjaga garis horisontal tugasnya adalah berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi seorang yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal maka tugasnya adalah menjaga keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan.
Permainan ini sangat menarik, menyenangkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan. Kalau kita sudah lepas dari garis batas terakhir kita menjadi bebas merdekaa.. inilah yang kita tuju.. Nilai Spiritual dalam Permainan Gobak Sodor….Selain kebersamaan, kita juga bisa belajar kerja sama yang kompak antara satu penjaga dan penjaga lain agar lawan tidak lepas kendali untuk keluar dari kungkungan kita. Di pihak lain bagi penerobos yang piawai, disana masih banyak pintu-pintu yang terbuka apabila satu celah dirasa telah tertutup. Jangan putus asa apabila dirasa ada pintu satu yang dijaga, karena masih ada pintu lain yang siap menerima kedatangan kita, yang penting kita mau mau berusaha dan bertindak segera. Ingatlah bahwa peluang selalu ada, walaupun terkadang nilai probabilitasnya sedikit


Patil Lele
Permainan ini juga dikenal dengan nama Gatrik, tak kadal, benthik. Permainan ini menggunakan alat dari dua potongan bambu yang satu menyerupai tongkat berukuran kira kira 30 cm dan lainnya berukuran lebih kecil. Pertama potongan bambu yang kecil ditaruh diantara dua batu atau di atas lubang (luwokan) harus dipersiapkan di atas tanah lalu dipukul oleh tongkat bambu, diteruskan dengan memukul bambu kecil tersebut sejauh mungkin, pemukul akan terus memukul hingga beberapa kali sampai suatu kali pukulannya tidak mengena/luput/meleset dari bambu kecil tersebut. Setelah gagal maka orang berikutnya dari kelompok tersebut akan meneruskan. Sampai giliran orang terakhir. Biasanya setelah selesai maka kelompok lawan akan memberi hadiah berupa gendongan dengan patokan jarak dari bambu kecil yang terakhir hingga ke batu awal permainan dimulai tadi. Makin jauh, maka makin enak digendong dan kelompok lawan akan makin lelah menggendong.


Main Engklek atau Engkek-Engkek
Sekelompok anak secara bergantian melemparkan gacuk pada gambar kotak-kotak di atas tanah, kemudian melompat-lompat dengan satu kaki mengelilingi kotak-kotak yang ada, dan berupaya secara sungguh-sungguh untuk memiliki kotak sebanyak-banyaknya. Barang siapa memiliki kotak paling banyak, maka dialah yang akan memenangkan permainan. Permainan ini disebut dengan sengklek, selain itu di nusantara mempunyai beraneka ragam nama diantaranya sunda manda, teklek. ingkling, sundamanda/sundah-mandah, jlong jling, lempeng, dampu, dan beberapa sebutan lainnya.

Cara bermainnya sederhana saja, cukup melompat menggunakan satu kaki disetiap petak-petak yang telah digambar sebelumnya di tanah.
Untuk dapat bermain, setiap anak harus berbekal gacuk yang biasanya berupa sebentuk pecahan genting alias kreweng, yang dalam permainan kreweng ini ditempatkan di salah satu petak yang tergambar di tanah dengan cara dilempar, petak yang ada gacuknya tidak boleh diinjak/ ditempati oleh setiap pemain, jadi para pemain harus melompat ke petak berikutnya.
Pemain yang menyelesaikan satu putaran terlebih dahulu, berhak memilih sebuah petak untuk dijadikan “sawah”, yang artinya di petak tersebut pemain yang bersangkutan dapat menginjak petak itu dengan dua kaki, sementara pemain lain tidak boleh menginjak petak itu selama permainan.

◙ Boy-boyan (boi-boian)
Permainan ini dikenal juga dengan nama Pecah Piring, Gebokan, dalam permainannya membutuhkan dua benda penting. Bola dan pecahan genteng atau yang sederajat untuk disusun keatas sehingga berbentuk menara. Bola bisa dibuat dari gabungan plastik dan kertas yang dibentuk sedimikian rupa sehingga menyerupai bola. Ada dua team yang dibentuk misal team A dan B, satu orang dari team A akan melemparkan bola ke arah tumpukan pecahan genteng, jika tumpukan tersebut berhasil di hancurkan, team A akan lari, menghindari terkenanya lemparan bola, dan berusaha menumpuk pecahan genteng. Sedangkan team B, berusaha menggagalkan team A untuk menyempurnakan tumpukan genteng dengan melempar bola ke arah badan team B. Jika team A terkena lemparan atau gagal menghancurkan tumpukan genteng, team B akan mendapat bagian  melempar bola ke arah tumpukan genteng

Dakon
Permainan dakon dikenal sebagai permainan tradisional masyarakat Jawa sekalipun permainan ini dikenal juga di daerah lain. Pada masa lalu permainan ini sangat lazim dimainkan oleh anak-anak bahkan remaja wanita. Tidak ada yang tahu mengapa permainan ini identik dengan dunia wanita. Menurut beberapa pendapat karena permainan ini identik atau berhubungan erat dengan manajemen atau pengelolaan keuangan. Pada masa lalu (bahkan hingga kini) kaum hawa disadari atau tidak berperanan penting dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Dakon dianggap menjadi sarana pelatihan terhadap pengelolaan atau manajemen keuangan tersebut. Untuk kaum adam mungkin permainan semacam ini dianggap terlalu feminine, kurang menantang, tidak memerlukan kegiatan otot dan pengerahan tenaga yang lebih banyak. Jadi, barangkali dianggap terlalu lembut.

Pada saat sekarang permainan dakon ini boleh dikatakan tidak ada lagi. Anak-anak putri sekarang lebih tertarik bermain boneka Barbie, melihat sinetron, atau bermainn play station. Permainan dakon barangkali dianggap telah kuno, ketinggalan zaman, atau bahkan dianggap udik.

Umumnya permainan dakon pada zaman dulu dilakukan di pendapa, beranda rumah, atau di bawah pohon yang rindang dengan terlebih dulu menggelar tikar. Untuk memulai permainan yang melibatkan dua orang ini, keduanya akan mengundi atau ping sut untuk menentukan siapa yang jalan duluan.

Lubang pada papan dakon berjumlah 16 buah. Masing-masing sisi papan dakon terdapat 7 buah lubang dan 2 buah lubang di masing-masing pojokan/ujung papannya. Untuk memainkannya biasanya diperlukan biji-bijian untuk isian lubang-lubangnya. Umumnya biji yang digunakan untuk permainan ini adalah biji buah sawo. Mengapa biji buah sawo ? Jawabannya adalah karena tanaman sawo umumnya terdapat di hampir semua pekarangan (depan) rumah-rumah Jawa di masa lalu, khususnya rumah-rumah orang yang cukup mampu. Lebih-lebih rumah ningrat yang memiliki pendapa. Kecuali itu butiran biji sawo tidak terlalu kecil untuk dicomot. Permukaannya licin sehingga cukup mudah untuk diluncurkan dari genggaman sekaligus cukup mudah juga untuk digenggam telapak tangan. Selain itu, biji buah sawo yang dinamakan kecik itu secara visual memang tampak lebih eksotik (barangkali).

Untuk permainan dakon yang juga dinamakan congklak itu diperlukan 98 buah biji sawo. Masing-masing sisi dakon yang memiliki 7 buah lubang itu diisi 7 buah biji untuk masing-masing lubangnya. Jadi, masing-masing pemain memiliki 49 buah biji kecik yang siap dijalankan. Sedangkan lubang di bagian ujung (pojok) dakon dikosongkan untuk menampung sisa biji ketika permainan dijalankan.


Cublak-cublak suweng
Permainan ini dimainkan oleh minimal 3 orang. Diawali dengan hom pim pa. Yang kalah akan memposisikan badannya seperti sujud. Dan anak yang lain meletakkan telapak tangannya diatas punggung pak empo dan menghadap ke atas. Satu anak akan memutar kerikil dari telapak satu ke telapak yang lain sambil menanyikan lagu berikut :
cublak-cublak suweng suwenge ting gelenter mambu ketundung gudel pak empo lera- lere sapa ngguyu ndelikake sir-sir pong dele kopong sir-sir pong dele kopong.
Satu anak akan menyembunyikan kerikil tersebut. Setelah lagu selesai, pak empo akan mencari dan menebak orang yang menyembunyikan suweng alias kerikil. Anak yang lain berusaha mengecoh dengan menggenggam erat. Jika tebakan benar, pak empo akan digantikan perannya oleh anak pemegang kerikil. Jika salah, permainan diulang sekali lagi dengan pak empo yang sama.
 
   

Main Karet
Permainan ini sudah tidak asing lagi tentunya, karena permainan lompat tali ini bisa di temukan hampir di seluh indonesia meskipun dengn nama yang berbeda-beda. permainan lompat tali ini biasanya identik dengan kaum perempuan. tetapi juga tidak sedikit anak laki-laki yang ikut bermain. 


Permainan ini tergolong sederhana karena hanya melompati anyaman karet dengan ketinggian tertentu. Jika pemain dapat melompati tali-karet tersebut, maka ia akan tetap menjadi pelompat hingga merasa lelah dan berhenti bermain. Namun, apabila gagal sewaktu melompat, pemain tersebut harus menggantikan posisi pemegang tali hingga ada pemain lain yang juga gagal dan menggantikan posisinya.

Ada beberapa ukuran ketinggian tali karet yang harus dilompati, yaitu: (1) tali berada pada batas lutut pemegang tali; (2) tali berada sebatas (di) pinggang (sewaktu melompat pemain tidak boleh mengenai tali karet sebab jika mengenainya, maka ia akan menggantikan posisi pemegang tali; (3) posisi tali berada di dada pemegang tali (pada posisi yang dianggap cukup tinggi ini pemain boleh mengenai tali sewaktu melompat, asalkan lompatannya berada di atas tali dan tidak terjerat); (4) posisi tali sebatas telinga; (5) posisi tali sebatas kepala; (6) posisi tali satu jengkal dari kepala; (7) posisi tali dua jengkal dari kepala; dan (8) posisi tali seacungan atau hasta pemegang tali.


Begitu kaya warisan nenek moyang kita akan permainan/dolanan yang tidak hanya bersenang senang namun banyak sekali hikmah didalamnya yang mendidik dan dapat dijadikan pelajaran.
Permainan/dolanan lainnya:
bermain enggrang
bermain gasing
bermain ketapel
Sentokan
Bermain layangan
main ulo-uloan/ular naga


Referensi:
internet
--------------------------------------
ditulis

The Waterfall in Love - Air Terjun Coban Waru Pasuruan

The Waterfall in Love adalah nama keren dari Coban Waru. Coban Waru ini merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki desa Nongkojajar yang berada diantara dua desa yaitu Wonosari dan Kayukebek, atau satu jam perjalanan dari pasar Nongkojajar Pasuruan.

Tempat ini sangat cocok untuk melepaskan kepenatan dari aktivitas kita sehari-hari.  Kondisi alamnya yang masih perawan dan udaranya yang sejuk akan membuat kita merasa lebih tenang dan tidak ingin beranjak dari tempat ini. Anda pasti bingung untuk memilih tempat yang cocok untuk berfoto-foto karena semua lokasi yang mengelilingi air terjun ini begitu indah…Coban Waru memiliki ketinggian sekitar 25 meter.  Curah hujan di kawasan ini rata-rata 1.800 mm/th dengan bulan basah antara November sampai Maret dan bulan kering antara bulan April hingga Oktober yang mencapai suhu sekitar 22°C.

Coban Waru sangat cocok dikunjungi jika anda ingin merasakan keasrian dan keelokan alam yang masih perawan disertai dinginnya aliran air terjun dan suara gemericik air yang menambah keindahan air terjun setinggi 75 meter ini.

 
Akses Menuju Nongkojajar

Jalan menuju lokasi Kecamatan Tutur Nongkojajar sangat mudah dan lancar, dengan didukung panorama pedesaan dan pegunungan yang sangat khas dan alami. Kondisi jalannya sangat mulus, meski cukup berkelok. Jarak dari Surabaya sekitar 80 kilometer. Bila dari Kota Malang dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu setengah jam perjalanan. Bila rute perjalanan dari arah Surabaya-Malang, begitu sampai di Jalan Raya Purwodadi, kita akan menemui petunjuk pertama berupa baliho besar di sisi barat jalan dengan arah panah menuju lokasi. Dari situ lokasi sudah berjarak sekitar 20 kilometer ditempuh dengan kendaraan pribadi. Dari titik itupula juga tersedia angkutan umum. Setelah itu nanti kita ikuti saja jalur jalan raya, dan tak perlu tersesat. Tanda bila kita telah sampai di Kecamatan Tutur Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan, yaitu dengan adanya tanda di gapura desa berupa tulisan Selamat Datang di Nongkojajar.
Nama Nongkojajar sebenarnya diambil dari kata “nongko” yang berarti nangka dan “jajar” yang berati berdampingan/berderet. Konon dahulu kala, daerah ini memiliki pohon nangka yang letaknya berjajar sehingga orang-orang menyebutnya dengan Nongkojajar. Nongkojajar masuk diwilayah kecamatan Tutur, Pasuruan, Jawa Timur.

Untuk menegaskan bahwa Nongkojajar saat ini sedang merintis agrowisata, maka dibentuklah Nongkojajar Tourism Information Centre (NTIC) yang merupakan pusat informasi untuk turis baik turis domestik maupun mancanegara. Di NTIC ini kita dapat meminta informasi tentang wisata di Nongkojajar serta dilengkapi dengan fasilitas internet. NTIC membagi musim kunjungan menjadi 3, yaitu :

Fresh Green Season yaitu pada bulan Januari sampai akhir April, bagi para penggemar durian dapat menikmati durian sepuasnya.

Summer Sunrise pada bulan Mei sampai akhir Agustus, kita dapat menikmati manisnya strawberry dan kehangatan sinar matahari yang dipadu dengan sejuknya udara pegunungan bebas polusi.

Winter Fogs Season
dibulan September hingga Desember, kita dapat menambah pengalaman dengan ikut memanen dan melihat pengolahan kopi secara tradisional. Nikmati juga seduhan kopi hangat ditengah selimut kabut Nongkojajar.
Sumber: http://seputar-pasuruan.blogspot.com/2011/06/waterfall-in-love-air-terjun-coban-waru.html

Air Terjun Sumber Nyonya Gunungsari Pasuruan

Nongkojajar mempunyai potensi alam yang cukup bagus untuk di kunjungi yaitu Wisata Air Terjun " Sumber Nyonya " yang terletak di Dusun Gunung Sari Desa Tutur deket dengan lokasi wisata Bukit Flora.
Selain alamnya yang indah juga airnya yang cukup jernih, biasanya pada hari minggu atau hari libur banyak pengunjung yang datang mengunjungi wisata air terjun ini.
Air Terjun Gunung Sari ini merupakan air terjun yang tergolong aman karena air tidak langsung jatuh ke tanah, dimana air yang jatuh terlebih dahulu mengenai bebatuan yang berada di tingkat yang lebih rendah, sehingga tidak ada tempat yang dalam di sekitar hempasan air. Air terjun ini terletak di areal perkebunan kopi penduduk. Lokasi Air terjun ini Terletak di Desa Gunung Sari Nongkojajar, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Propinsi Jawa timur.

Sumber http://ielmy-wisatanongkojajar.blogspot.com/

Rabu, 12 September 2012

Kyai Hamid bin Abdullah Umar (Pasuruan)

Kiai Hamid lahir pada tahun 1333 H (bertepatan dengan 1914 atau 1915 M) di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya di dukuh Sumurkepel, desa Sumbergirang. Sebuah pedukuhan yang terletak di tengah kota kecamatan Lasem. Begitu lahir, bayi itu diberi nama Abdul Mu’thi. Itulah nama kecil beliau hingga remaja, sebelum berganti menjadi Abdul Hamid.

Abdul Mu’thi kecil biasa dipanggil “Dul” saja. Tapi, seringkali panggilan ini diplesetkan menjadi “Bedudul” karena kenakalannya.


Mu'thi memang tumbuh sebagai anak yang lincah, extrovert, dan nakal. “Nakalnya luar biasa,” tutur KH. Hasan Abdillah Glenmore, adik sepupu beliau. Tapi nakalnya Mu’thi tidak seperti anak-anak sekarang: yang sampai mabuk-mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Mu'thi adalah kenakalan bocah yang masih dalam batas wajar, tapi untuk ukuran anak seorang kiai dipandang “luar biasa”. Sebab, sehari-hari dia jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang. Beliau bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahandanya tak bisa membendung hobi ini. Karena banyak bermain, ngajinya otomatis kurang teratur walaupun bukan ditinggalkan sama sekali. Dia mengaji kepada KH. Ma’shum (ayahanda KH. Ali Ma’shum Jogjakarta) dan KH. Baidhawi, dua “pentolan” ulama Lasem.


Kiai Hamid Pasuruan: Kini Sulit Dicari Padanannya

Kiai Hamid lahir pada tahun 1333 H (bertepatan dengan 1914 atau 1915 M) di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya di dukuh Sumurkepel, desa Sumbergirang. Sebuah pedukuhan yang terletak di tengah kota kecamatan Lasem. Begitu lahir, bayi itu diberi nama Abdul Mu’thi. Itulah nama kecil beliau hingga remaja, sebelum berganti menjadi Abdul Hamid.

Abdul Mu’thi kecil biasa dipanggil “Dul” saja. Tapi, seringkali panggilan ini diplesetkan menjadi “Bedudul” karena kenakalannya.

Mu'thi memang tumbuh sebagai anak yang lincah, extrovert, dan nakal. “Nakalnya luar biasa,” tutur KH. Hasan Abdillah Glenmore, adik sepupu beliau. Tapi nakalnya Mu’thi tidak seperti anak-anak sekarang: yang sampai mabuk-mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Mu'thi adalah kenakalan bocah yang masih dalam batas wajar, tapi untuk ukuran anak seorang kiai dipandang “luar biasa”. Sebab, sehari-hari dia jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang. Beliau bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahandanya tak bisa membendung hobi ini. Karena banyak bermain, ngajinya otomatis kurang teratur walaupun bukan ditinggalkan sama sekali. Dia mengaji kepada KH. Ma’shum (ayahanda KH. Ali Ma’shum Jogjakarta) dan KH. Baidhawi, dua “pentolan” ulama Lasem.

Ketika mulai beranjak remaja (ABG), dia mulai gemar belajar kanoragan (semacam ilmu kesaktian). Belajarnya cukup intensif sehingga mencapai taraf ilmu yang cukup tinggi. “Sampai bisa menangkap babi jadi-jadian,” tutur KH. Zaki Ubaid Pasuruan.

Meski begitu, sejak kecil ia sudah menunjukkan tanda-tanda bakal menjadi wali atau, setidaknya, orang besar. Ketika diajak kakeknya, KH. Muhammad Shiddiq (Jember), pergi haji, Mu’thi bertemu dengan Rasulullah s.a.w. Pada saat haji itulah namanya diganti menjadi Abdul Hamid.

Dipondokkan

Pada usia sekitar 12-13 tahun, Hamid dikirim ayahandanya, K.H. Abdullah Umar, ke Pondok Kasingan, Rembang. Maksud ayahandanya, untuk meredam kenakalannya. Dia tidak lama di pondok ini. Satu atau satu setengah tahun kemudian dia pindah ke Pondok Tremas, Pacitan. Pondok pimpinan KH. Dimyathi ini cukup besar dan berwibawa. Dari pondok ini terlahir banyak kiai besar. Di antaranya adalah KH. Ali Ma’shum Jogjakarta (mantan rais am PB NU), KH. Masduqi Lasem, KH. Abdul Ghofur Pasuruan, KH. Harun Banyuwangi, dan masih banyak lagi.

Walaupun kegemarannya bermain sepak bola masih berlanjut, di pesantren ini beliau mulai mendapat gemblengan ilmu yang sebenarnya. Uang kiriman orangtua yang hanya cukup untuk dipakai makan nasi thiwul tidak membuatnya patah arang. Dia tetap betah tinggal di sana sampai 12 tahun, hingga mencapai taraf keilmuan yang tinggi di berbagai bidang.

Tidak Suka Dipuja

Setelah 12 tahun belajar agama di Pondok Tremas, tokoh kita itu dipinang oleh pamandanya, KH. Achmad Qusyairi, untuk dikawinkan dengan putrinya, Nafisah.

Konon, Kiai Achmad pernah menerima pesan dari ayahandanya, KH. Muhammad Shiddiq, supaya mengambil Hamid sebagai menantu mengingat keistimewaan-keistimewaan yang tampak pada pemuda tersebut. Antara lain, saat pergi haji dulu, dia bisa berjumpa dengan Rasulullah s.a.w. Sayang, sang kakek tak sempat melihat pernikahan itu karena lebih dulu dipanggil Sang Mahakuasa.

Seperti disebut dalam surat undangan, akad nikah akan dilangsungkan pada 12 September 1940 M, bertepatan dengan 9 Sya'ban 1359 H, selepas zhuhur pukul 1 di Masjid Jami’ (sekarang Masjid Agung Al-Anwar) Pasuruan. Namun, rencana tinggal rencana. Pada waktu yang ditentukan, para undangan sudah berkumpul di Masjid Jami’, namun rombongan penganten pria tak kunjung muncul hingga jam menunjuk pukul 2. Terpaksa acara melompat ke sesi berikutnya, yaitu walimah di rumah Kiai Achmad Qusyairi di Kebonsari, di kompleks Pesantren Salafiyah.

Di sana kembali orang-orang dibuat menunggu. Ternyata, rombongan penganten pria baru datang sore hari, setelah acara walimah rampung dan para undangan pulang semua. “Anu, penganten kuajak mampir ke makam (para wali),” kata Kiai Ma’shum, yang dipercaya menjadi kepala rombongan. Apa boleh buat, akad nikah pun dilangsungkan tanpa kehadiran undangan, dan hanya disaksikan para handai tolan.

Prihatin

Sejak itu, Haji Abdul Hamid tinggal di rumah mertuanya. Lima atau enam tahun kemudian, Kiai Achmad pindah ke Jember, lalu pindah ke Glenmore, Banyuwangi. Tinggallah kini Kiai Hamid bersama istrinya harus berjuang secara mandiri mengarungi samudera kehidupan dalam biduk rumah tangga yang baru mereka bina. Untuk menghidupi diri dan keluarga, Kiai Hamid berusaha apa saja. Dari jual beli sepeda, berdagang kelapa dan kedelai sampai menyewa sawah dan berdagang spare part dokar.

Hari-hari mereka adalah hari-hari penuh keprihatinan. Makan nasi dengan krupuk atau tempe panggang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Terkadang, sarung yang sudah menerawang (karena usang) masih dipakai (dengan dilapisi kain serban supaya warna kulitnya tidak kelihatan). Tapi, Kiai Hamid tak kenal putus asa, terus berusaha dan berusaha.

Kala itu beliau belum terlibat dalam kegiatan Pesantren Salafiyah, meski tinggal di kompleks pesantren. Di tengah hidup prihatin itu, beliau mulai punya santri -- dua orang -- yang ditempatkan di sebuah gubuk di halaman rumah. Beliau juga mulai menggelar pengajian di berbagai desa di kabupaten Pasuruan: Rejoso, Ranggeh dan lain-lain.

Sekitar 1951, sepeninggal KH. Abdullah ibn Yasin yang jadi nazhir (pengasuh) Pondok Salafiyah, beliau dipercaya sebagai guru besar pondok, sementara KH. Aqib Yasin, adik Kiai Abdullah, menjadi nazhir. Meski demikian, secara de facto, beliaulah yang memangku pondok itu, mengurusi segala tetek bengek sehari-hari, day to day karena Kiai Aqib yang muda itu, masih belajar di Lasem.

Fenomenal

Kiai Hamid benar-benar berangkat dari titik nol dalam membina Pondok Salafiyah. Sebab, saat itu tidak ada santri. Para santri sebelumnya tidak tahan dengan disiplin tinggi yang diterapkan Kiai Abdullah.

Walaupun tak ada promosi, satu demi satu santri mulai berdatangan. Prosesnya sungguh natural, tanpa rekayasa. Perkembangannya memang tidak bisa dibilang melesat cepat, tapi gerak itu pasti. Terus bergerak dan bergerak hingga kamar-kamar yang ada tidak mencukupi untuk para santri dan harus dibangun yang baru; hingga jumlah santrinya mencapai ratusan orang, memenuhi ruang-ruang pondok yang lahannya tak bisa diperluas lagi karena terhimpit rumah-rumah penduduk; hingga pada akhirnya, terdorong oleh perkembangan zaman, fasilitas baru pun perlu disediakan, yaitu madrasah klasikal.

Perkembangan fenomenal terjadi pada pribadi beliau. Dari semula hanya dipanggil “haji” lalu diakui sebagai “kiai”, pengakuan masyarakat semakin membesar dan membesar. Tamunya semakin lama semakin banyak. Terutama setelah wafatnya Habib Ja’far As-Segaf (wali terkemuka Pasuruan waktu itu yang jadi guru spiritualnya) sekitar 1954, sinarnya semakin membesar dan membesar. Kiai Hamid sendiri mulai diakui sebagai wali beberapa tahun kemudian, sekitar awal 1960-an. Pengakuan akan kewalian itu kian meluas dan meluas, hingga akhirnya mencapai taraf -- meminjam istilah Gus Mus -- “muttafaq ‘alaih” (disepakati semua orang, termasuk di kalangan mereka yang selama ini tak mudah mengakui kewalian seseorang).

Lurus

Ketika Kiai Hamid mulai berkiprah di Pasuruan, tak sedikit orang yang merasa tersaingi. Terutama ketika beliau menggelar pengajian di kampung-kampung. Maklumlah, beliau seorang pendatang. Ada kiai setempat yang menuduh beliau mencari pengaruh, dan menggerogoti santri mereka. Padahal, Kiai Hamid mengajar di sana atas permintaan penduduk setempat.

Ibarat kata pepatah Jawa “Becik ketitik, ala ketara”, lambat laun beliau dapat menghapus kesan itu. Bukan dengan rekayasa atau “politik pencitraan” yang canggih, melainkan dengan perbuatan nyata. Dengan tetap berjalan lurus, dan terutama dengan sikap tawadhu’, kehadiran beliau akhirnya dapat diterima sepenuhnya. Bahkan mereka menaruh hormat pada beliau justru karena sikap tawadhu’ itu.

Beliau memang rendah hati (tawadhu’). Kalau menghadiri suatu acara, beliau memilih duduk di tempat “orang-orang biasa”, yaitu di belakang, bukan di depan. “Kiai Hamid selalu ndepis (menyembunyikan diri) di pojok,” kata Kiai Hasan Abdillah.

Hormat

Beliau bersikap hormat pada siapapun. Dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata sampai yang berpangkat, semua dilayaninya, semua dihargainya. Misalnya, bila sedang menghadapi banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada mereka semua. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa disepelekan. “Yang paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya,” kata Mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali, yang pernah menjadi junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas.

Beliau sangat menghormat pada ulama dan habaib. Di depan mereka, sikap beliau layaknya sikap seorang santri kepada kiainya. Bila mereka bertandang ke rumahnya, beliau sibuk melayani. Misalnya, ketika Sayid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki, seorang ulama kondang Mekah (yang baru saja wafat), bertamu, beliau sendiri yang mengambilkan suguhan, lalu mengajaknya bercakap sambil memijatinya. Padahal tamunya itu lebih muda usia.

Sikap tawadhu’ itulah, antara lain, rahasia “keberhasilan” beliau. Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadhu’ beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun meningkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah s.a.w., “Barangsiapa bersikap tawadhu’, Allah akan mengangkatnya.”

Sabar

Beliau sangat penyabar, sementara pembawaan beliau halus sekali. Sebenarnya, di balik kehalusan itu tersimpan sikap keras dan temperamental. Hanya berkat riyadhah (latihan) yang panjang, beliau berhasil meredam sifat cepat marah itu dan menggantinya dengan sifat sabar luar biasa. Riyadhah telah memberi beliau kekuatan nan hebat untuk mengendalikan amarah.

Beliau, misalnya, dapat menahan amarah ketika disorongkan oleh seorang santri hingga hampir terjatuh. Padahal, santri itu telah melanggar aturan pondok, yaitu tidak tidur hingga lewat pukul 9 malam. Waktu itu hari sudah larut malam. Beliau disorongkan karena dikira seorang santri. “Sudah malam, ayo tidur, jangan sampai ketinggalan salat subuh berjamaah,” kata beliau dengan suara halus sekali.

Beliau juga tidak marah mendapati buah-buahan di kebun beliau habis dicuri para santri dan ayam-ayam ternak beliau ludes dipotong mereka. “Pokoknya, barang-barang di sini kalau ada yang mengambil (makan), berarti bukan rezeki kita,” kata beliau.
Pada saat-saat awal beliau memimpin Pondok Salafiyah, seorang tetangga sering melempari rumah beliau. Ketika tetangga itu punya hajat, beliau menyuruh seorang santri membawa beras dan daging ke rumah orang tersebut. Tentu saja orang itu kaget, dan sejak itu kapok, tidak mau mengulangi perbuatan usilnya tadi.

Beliau juga tidak marah ketika seorang yang hasud mencuri daun pintu yang sudah dipasang pada bangunan baru di pondok.

Penyakit Hati

Melalui riyadhah dan mujahadah (memerangi hawa nafsu) yang panjang, beliau telah berhasil membersihkan hati beliau dari berbagai penyakit. Tidak hanya penyakit takabur dan amarah, tapi juga penyakit lainnya. Beliau sudah berhasil menghalau rasa iri dan dengki. Beliau sering mengarahkan orang untuk bertanya kepada kiai lain mengenai masalah tertentu. “Sampeyan tanya saja kepada Kiai Ghofur, beliau ahlinya,” kata beliau kepada seorang yang bertanya masalah fiqih. Beliau pernah marah kepada rombongan tamu yang telah jauh-jauh datang ke tempat beliau, dan mengabaikan kiai di kampung mereka. Beliau tak segan “memberikan” sejumlah santrinya kepada KH. Abdur Rahman, yang tinggal di sebelah rumahnya, dan kepada Ustaz Sholeh, keponakannya yang mengasuh Pondok Pesantren Hidayatus Salafiyah.

Bergunjing

Menghilangkan rasa takabur memang sangat sulit. Terutama bagi orang yang memiliki kelebihan ilmu dan pengaruh. Ada yang tak kalah sulitnya untuk dihapus, yaitu kebiasaan menggunjing orang lain. Bahkan para kiai yang memiliki derajat tinggi pun umumnya tak lepas dari penyakit ini. Apakah menggunjing kiai saingannya atau orang lain. Kiai Hamid, menurut pengakuan banyak pihak, tak pernah melakukan hal ini. Kalau ada orang yang hendak bergunjing di depan beliau, beliau menyingkir. Sampai KH. Ali Ma'shum berkata, “Wali itu ya Kiai Hamid itulah. Beliau tidak mau menggunjing (ngrasani) orang lain.”

Manusia Biasa

Kiai Hamid, seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakatnya. Beliau adalah cermin (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja, di mana-mana dirubung orang, ke mana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan beliau).

Bagaimanapun beliau manusia biasa (Rasulullah pun manusia biasa), yang harus merasakan kematian. Sabtu 9 Rabiul Awal 1403 H, bertepatan dengan 25 Desember 1982 M, menjadi awal berkabung panjang bagi msyarakat muslim Pasuruan, dan muslim di tempat lain. Hari itu, saat ayam belum berkokok, hujan tangis memecah kesunyian di rumah dalam kompleks Pesantren Salafiyah. Setelah jatuh anfal beberapa hari sebelumnya dan sempat dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya karena penyakit jantung yang akut, beliau menghembuskan nafas terakhir. Inna lillahi wa inna lillahi raji’un.

Umat pun menangis. Pasuruan seakan terhenti, bisu, oleh duka yang dalam. Puluhan, bahkan ratusan ribu orang berduyun-duyun membanjiri Pasuruan. Memenuhi relung-relung Masjid Agung Al-Anwar dan alun-alun kota, memadati gang-gang dan ruas-ruas jalan yang membentang di depannya. Mereka, dalam gerak serentak, di bawah komando seorang imam, KH. Ali Ma’shum Jogjakarta, mengangkat tangan “Allahu Akbar” empat kali dalam salat janazah yang kolosal. Allahumma ighfir lahu warhamhu, ya Allah ampunilah dosanya dan rahmatilah dia.



Sumber :
http://warungkopipasuruan.blogspot.com/2011/06/kyai-hamid-bin-abdullah-umar-pasuruan.html

Babad Pasuruan

Pasuruan adalah sebuah kota pelabuhan kuno. Pada zaman Kerajaan Airlangga, Pasuruan sudah dikenal dengan sebutan "Paravan" . Pada masa lalu, daerah ini merupakan pelabuhan yang sangat ramai. Letak geografisnya yang strategis menjadikan Pasuruan sebagai pelabuhan transit dan pasar perdagangan antar pulau serta antar negara. Banyak bangsawan dan saudagar kaya yang menetap di Pasuruan untuk melakukan perdagangan. Hal ini membuat kemajemukan bangsa dan suku bangsa di Pasuruan terjalin dengan baik dan damai.

Sejarah Kota Pasuruan

Pasuruan yang dahulu disebut Gembong merupakan daerah yang cukup lama dikuasai oleh raja-raja Jawa Timur yang beragama Hindu. Pada dasawarsa pertama abad XVI yang menjadi raja di Gamda (Pasuruan) adalah Pate Supetak, yang dalam babad Pasuruan disebutkan sebagai pendiri ibukota Pasuruan.

Menurut kronik Jawa tentang penaklukan oleh Sultan Trenggono dari Demak, Pasuruan berhasil ditaklukan pada tahun 1545. Sejak saat itu Pasuruan menjadi kekuatan Islam yang penting di ujung timur Jawa. Pada tahun-tahun berikutnya terjadi perang dengan kerajaan Blambangan yang masih beragama Hindu-Budha. Pada tahun 1601 ibukota Blambangan dapat direbut oleh Pasuruan.

Pada tahun 1617-1645 yang berkuasa di Pasuruan adalah seorang Tumenggung dari Kapulungan yakni Kiai Gede Kapoeloengan yang bergelar Kiai Gedee Dermoyudho I. Berikutnya Pasuruan mendapat serangan dari Kertosuro sehingga Pasuruan jatuh dan Kiai Gedee Kapoeloengan melarikan diri ke Surabaya hingga meninggal dunia dan dimakamkan di Pemakaman Bibis (Surabaya).

Selanjutnya yang menjadi raja adalah putra Kiai Gedee Dermoyudho I yang bergelar Kiai Gedee Dermoyudho II (1645-1657). Pada tahun 1657 Kiai Gedee Dermoyudho II mendapat serangan dari Mas Pekik (Surabaya), sehingga Kiai Gedee Dermoyudho II meninggal dan dimakamkan di Kampung Dermoyudho, Kelurahan Purworejo, Kota Pasuruan. Mas Pekik memerintah dengan gelar Kiai Dermoyudho (III) hingga meninggal dunia pada tahun 1671 dan diganti oleh putranya, Kiai Onggojoyo dari Surabaya (1671-1686).

Kiai Onggojoyo kemudian harus menyerahkan kekuasaanya kepada Untung Suropati. Untung Suropati adalah seorang budak belian yang berjuang menentang Belanda, pada saat itu Untung Suropati sedang berada di Mataram setelah berhasil membunuh Kapten Tack. Untuk menghindari kecurigaan Belanda, pada tanggal 8 Februari 1686, Pangeran Nerangkusuma yang telah mendapat restu dari Amangkurat I (Mataram) memerintahkan Untung Suropati berangkat ke Pasuruan untuk menjadi adipati (raja) dengan menguasai daerah Pasuruan dan sekitarnya.

Untung Suropati menjadi raja di Pasuruan dengan gelar Raden Adipati Wironegoro. Selama 20 tahun pemerintahan Suropati (1686-1706) dipenuhi dengan pertempuran-pertempuran melawan tentara Kompeni Belanda. Namun demikian dia masih sempat menjalankan pemerintahan dengan baik serta senantiasa membangkitkan semangat juang pada rakyatnya.

Pemerintah Belanda terus berusaha menumpas perjuangan Untung Suropati, setelah beberapa kali mengalami kegagalan. Belanda kemudian bekerja sama dengan putra Kiai Onggojoyo yang juga bernama Onggojoyo untuk menyerang Untung Suropati. Mendapat serangan dari Onggojoyo yang dibantu oleh tentara Belanda, Untung Suropati terdesak dan mengalami luka berat hingga meninggal dunia (1706). Belum diketahui secara pasti dimana letak makam Untung Suropati, namun dapat ditemui sebuah petilasan berupa gua tempat persembunyiannya pada saat dikejar oleh tentara Belanda di Pedukuhan Mancilan, Kota Pasuruan.

Sepeninggal Untung Suropati kendali kerajaan dilanjutkan oleh putranya yang bernama Rakhmad yang meneruskan perjuangan sampai ke timur dan akhirnya gugur di medan pertempuran (1707).

Onggojoyo yang bergelar Dermoyudho (IV) kemudian menjadi Adipati Pasuruan (1707). Setelah beberapa kali berganti pimpinan pada tahun 1743 Pasuruan dikuasai oleh Raden Ario Wironegoro. Pada saat Raden Ario Wironegoro menjadi Adipati di Pasuruan, yang menjadi patihnya adalah Kiai Ngabai Wongsonegoro.

Suatu ketika Belanda berhasil membujuk Patih Kiai Ngabai Wongsonegoro untuk menggulingkan pemerintahan Raden Ario Wironegoro. Raden Ario dapat meloloskan diri dan melarikan diri ke Malang. Sejak saat itu seluruh kekuasaan di Pasuruan dipegang oleh Belanda. Belanda menganggap Pasuruan sebagai kota bandar yang cukup penting sehingga menjadikannya sebagai ibukota karesidenan dengan wilayah: Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Bangil.

Karena jasanya terhadap Belanda, Kiai Ngabai Wongsonegoro diangkat menjadi Bupati Pasuruan dengan gelar Tumenggung Nitinegoro. Kiai Ngabai Wongsonegoro juga diberi hadiah seorang putri dari selir Kanjeng Susuhunan Pakubuono II dari Kertosuro yang bernama Raden Ayu Berie yang merupakan keturunan dari Sunan Ampel, Surabaya. Pada saat dihadiahkan, Raden Ayu Berie dalam keadaan hamil, dia kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki yang bernama Raden Groedo. Saat Kiai Ngabai Wongsonegoro meninggal dunia, Raden Groedo yang masih berusia 11 tahun menggantikan kedudukannya menjadi Bupati Pasuruan dengan gelar Kiai Adipati Nitiadiningrat (Berdasarkan Resolusi tanggal 27 Juli 1751).

Adipati Nitiadiningrat menjadi Bupati di Pasuruan selama 48 tahun (hingga 8 November 1799). Adipati Nitiadiningrat (I) dikenal sebagai Bupati yang cakap, teguh pendirian, setia kepada rakyatnya, namun pandai mengambil hati Pemerintah Belanda. Karya besarnya antara lain mendirikan Masjid Agung Al Anwar bersama-sama Kiai Hasan Sanusi (Mbah Slagah).

Raden Beji Notokoesoemo menjadi bupati menggantikan ayahnya sesuai Besluit tanggal 28 Februari 1800 dengan gelar Toemenggoeng Nitiadiningrat II. Pada tahun 1809, Toemenggoeng Nitiadiningrat II digantikan oleh putranya yakni Raden Pandjie Brongtokoesoemo dengan gelar Raden Adipati Nitiadiningrat III. Raden Adipati Nitiadiningrat III meninggal pada tanggal 30 Januari 1833 dan dimakamkan di belakang Masjid Al Anwar. Penggantinya adalah Raden Amoen Raden Tumenggung Ario Notokoesoemo dengan gelar Raden Tumenggung Ario Nitiadiningrat IV yang meninggal dunia tanggal 20 Juli 1887. Kiai Nitiadiningrat I sampai Kiai Nitiadiningrat IV lebih dikenal oleh masyarakat Pasuruan dengan sebutan Mbah Surga-Surgi.

Pemerintahan Pasuruan sudah ada sejak Kiai Dermoyudho I hingga dibentuknya Residensi Pasuruan pada tanggal 1 Januari 1901. Sedangkan Kotapraja (Gementee) Pasuruan terbentuk berdasarkan Staatblat 1918 No.320 dengan nama Stads Gemeente Van Pasoeroean pada tanggal 20 Juni 1918.

Sejak tanggal 14 Agustus 1950 dinyatakan Kotamadya Pasuruan sebagai daerah otonom yang terdiri dari desa dalam 1 kecamatan. Pada tanggal 21 Desember 1982 Kotamadya Pasuruan diperluas menjadi 3 kecamatan dengan 19 kelurahan dan 15 desa. Pada tanggal 12 Januari 2002 terjadi perubahan status desa menjadi kelurahan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 10 tahun 2002, dengan demikian wilayah Kota Pasuruan terbagi menjadi 34 kelurahan. Berdasarkan UU no.22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah terjadi perubahan nama dari kotamadya menjadi kota maka Kotamadya Pasuruan berubah menjadi Kota Pasuruan.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Babad_Pasuruan

Pasuruan dalam Peradaban Budha dan Hindu

Sejarah Pasuruan bermula dari masa Kerajaan Kalingga dalam catatan Tiongkok disebut "bahwa di Cho'po (Jawa) pada tahun 674 M- 675 M, ada Kerajaan yang bernama "Ho-ling" yang memiliki seorang Raja, bernama Si-Ma, tentang letak kerajaaan "Ho-ling" atau Kalingga ini ada tiga pendapat yaitu pendapat pertama mengatakan terletak di Jawa Tengah dan pendapat yang kedua mengatakan kerajaan ini berada di Jawa Timur karena catatan itu hampir sama dengan prasasti yang ditemukan di daerah Dinoyo Kota Malang. Prasasti berbahasa Sansekerta ini menceritakan bahwa ada kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan dengan penguasa bernama Dewashima yang menggantikan ayahnya bernama Gajayana. Sedangkan pendapat yang ketiga mengatakan bahwa letaknya bisa jadi pada dua daerah itu karena catatan Tiongkok itu juga menjelaskan bahwa antara tahun 742 M - 755 M ibukota Holing dipindahkan ke Timur yaitu ke Po-lu-kia-sieu, oleh Raja Ki-Yen (ada yang menafsirkan kata Po-lu-kia-sieu dengan Pulokerto dan kata Raja Ki-Yen dengan Rakryan yang merupakan gelar seorang bangsawan pada saat itu). Pulokerto ini terletak di wilayah Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan sekarang ini.

Kerajaan ini beragama Budha hal ini didasarkan pada catatan seorang pendeta Budha yang bernama I-Tsing yang menyatakan bahwa dalam tahun 664 M telah datang seorang pendeta bernama Hwi-Ning di Holing, dan tinggal selama 3 tahun untuk menterjemahkan berbagai kitab suci agama Budha Hinayana.

Setelah Kalingga kemudian kita memasuki masa Mataram kuno, Dinasti Sanjaya, pada tahun 856 M Dinasti Sanjaya yang dipimpin Rakai Pikatan turun dari takhta, setelah berhasil menghapus kekuasaan keluarga Cailendra di Jawa. Adapun kemungkinan timbulnya kembali keluarga ini ia telah cegah, yaitu dengan menggempur Balaputradewa, yang dari prasasti tahun 856 M itu dapat disimpulkan bertahan di bukit Ratu Boko. Penggantinya, Dyah Lokapala atau Rakai Kayuwangi, ternyata menghadapi berbagai kesulitan yang dialami oleh rakyat Mataram. Kekuasaan Cailendra di Jawa Tengah selama tiga perempat abad banyak menghasilkan bangunan-bangunan suci yang serba megah dan mewah, tetapi sebaliknya sangat melemahkan tenaga rakyat dan penghasilan pertanian. Usaha mengutamakan kebesaran raja kini terasa akibatnya yang menekan penghidupan rakyat. Rakai Kayuwangi memerintah dari tahun 856 M - 886 M, dan dalam prasasti-prasastinya ia menggunakan sebutan Sri Maharaja dan gelar Abhiseka (penobatan raja) Sri Sajjanotsawatungga. Sebutan pertama menunjukkan kebesaran sang raja yang kini menjadi penguasa satu-satunya, sedangkan akhiran Tungga (=puncak, ujung) dalam nama abhisekanya. Kebiasaan yang hanya dipakai oleh Raja Cailendra menunjukkan bahwa sang raja berdarah Cailendra pula. Pengganti Rakai Kayuwangi adalah Rakai Watuhumalang yang memerintah dari tahun 886 M - 898 M. Kemudian menyusullah Raja Balitung (Rakai Watukura) yang bergelar Sri Icwarakecawtsawatungga, yang memerintah dari 898 M - 910 M. Prasasti-prasastinya terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga dapat disimpulkan ia adalah raja yang pertama yang memerintah kedua bagian pulau Jawa itu. Mungkin sekali kerajaan di Jawa Timur Kanjuruhan telah ia taklukkan, mengingat bahwa di dalam pemerintahan Jawa Tengah ada sebutan Rakryan Kanuruhan, yaitu salah satu jabatan tinggi langsung di bawah raja.

Memang prasasti-prasasti Balitung dari tahun 898 M - 907 M semuanya didapatkan di Jawa Timur, dan salah satu diantaranya menyebutkan serangan ke Bantan (= Bali). Salah satu prasastinya yang menarik perhatian adalah yang ia keluarkan dalam tahun 907 M, yaitu prasasti Calcutta yang memuat silsilahnya sejak Sanjaya, sedangkan mereka-mereka yang memerintah terlebih dahulu itu ia mintai perlindungan. Raja Balitung inilah yang raja-raja sesudah Balitung adalah: Daksa, yang dalam pemerintahan Balitung telah menjabat Rakryan Mahamantri I Hino (kedudukan yang tertinggi di bawah raja), dan menjadi raja dari 910 M - 919 M; Tulodong dengan gelarnya Rakai Layang Dyah Tulodong Sri Sajanasanmataanuraga-tunggadewa, dari tahun 919 M - 924 M; kemudian Wawa dengan gelarnya Sri Wijayalokanamottungga, dari 924 M - 929 M.

Sejak 929 M prasasti hanya didapatkan di Jawa Timur, dan yang memerintah adalah seorang raja dari keluarga lain, yaitu Mpu Sindok dari Icanawamca. Dengan ini maka habislah riwayat Sanjayawamca dan juga Jawa Tengah sebagai pusat pemerintahan. Mungkin sekali perpindahan kekuasaan dari keluarga Sanjaya kepada keluarga Icana berlangsung secara damai (perkawinan), tetapi apa sebabnya pusat kerajaan dipindah ke Jawa Timur tidak dapat diketahui. Ada pendapat bahwa hal itu terjadi karena ancaman-ancaman dari Sriwijaya.

Mpu Sindok dan Airlangga
Mpu Sindok, 929 M - 947 M


Prasasti Gulung-gulung dan prasasti Cunggrang ternyata menyebut nama tempat (sekarang masuk wilayah Kab. Pasuruhan) yang tertua dan dapat diidentifikasikan dengan toponim masa sekarang. Kedua prasasti itu dikeluarkan oleh Raja Sindok pada tahun 851 C. Dilihat dari tinggalan budayanya, maka Raja Sindok dapat dipandang raja besar, tetapi tentang asal usulnya masih belum jelas karena belum ada data yang menerangkan. Dampak dari ketidakjelasan itu akhirnya muncul beberapa hipotesis yang dilancarkan oleh para pakar.
Poerbatjaraka mengacu prasasti Cunggrang menyatakan bahwa Sindok adalah menantu Wawa. Data dari prasasti Cunggrang menyatakan:
"Sang siddha dewata rakryan bawa yayah rakryan bini baji cri parameswari dyah kbi".
Artinya: Almarhum Rakryan Wawa adalah ayah dari permaisuri (Sindok) yang bernama Dyah Kebi.
W. P. Stutterheim menyatakan bahwa Mpu Sindok adalah cucu Daksa dengan argumen sebagai berikut: Bawa tidak sama dengan Wawa, karena di atas aksara wa ada tanda anusuara, maka bawa harus dibaca bawang, jadi rakryan bawang. Wawa tidak pernah memakai gelar rakryan, yang dipergunakan ialah rakai sumba atau rakai pangkaja. Selanjutnya Stutterheim mengatakan kbi yang berarti nenek. Dari argument itu Stutterheim menyimpulkan: Orang yang didharmakan di Cunggrang adalah rakryan Bawang Pu Pastha, adalah nenek Sindok, dan ia adalah permaisuri Raja Daksa (disebut dalam prasasti Sugihmanek 837 C)
Jenjang karir sampai di puncak dilalui Sindok sejak raja-raja sebelumnya. Pada masa Raja Tulodong, Sindok bergelar Mapatih I Bina. Akhirnya Sindok menjadi raja, kebesaran Sindok sebagai raja tampak pada :

Sindok sebagai pendiri dinasti baru (Dinasti Icana) setelah terjadi pergeseran pusat pemerintahan ke arah timur (di Jawa Timur). Meski demikian Sindok tetap mempergunakan istilah Mataram untuk kerajaannya

Ibukota kerajaan pertama ialah Tamwlang , kata Tamwlang mungkin dapat disamakan dengan nama Desa Tembelang di dekat Jombang dan kemudian dipindahkan di Pawitra (Gunung Penanggungan) ditandai dengan pengaturan desa-desa disekitarnya salah satunya adalah prasasti Sukci.

Selama pemerintahannya 927 M - 949 M telah mengeluarkan lebih dua puluh prasasti yang berkaitan dengan pemberian tanah perdikan.

Dari prasasti Cunggrang jelas bahwa tahun 851 C daerah Cunggrang dipercayakan kepada Wahuta Wungkal. Jadi segala urusan yang ada di Cunggrang dipercayakan kepada Wahuta Wungkal. Cunggrang disebut sebagai Watak Bawang artinya darah Cunggrang adalah daerah lungguh milik (rakryan) Bawang. Jadi pajak tanah lungguh diterima oleh pemegang lungguh sebagai gajinya. Apabila tanah lungguh itu dijadikan perdikan (sima) maka pajak tidak diserahkan kepada pemegang lungguh, tetapi diberikan kepada penerima perdikan.
Sejak berkuasanya Sindok maka Jawa Timur menggantikan Jawa Tengah di atas panggung sejarah. Ia meninggalkan banyak prasasti, tetapi peristiwa-peristiwa sejarah tak banyak didapat daripadanya. Kebanyakan berisi pembebasan tanah dari pajak untuk keperluan bangunan-bangunan suci. Prasasti-prasasti ini bentuk dan susunannya boleh dikata serupa: mula-mula uraian pembebasan tanah itu dengan disertai angka tahun, batas serta ukuran-ukuran tanah yang dibebaskan, daftar orang-orang yang diserahi melaksanakan tugas itu, hadiah-hadiah yang dibagikan untuk keselamatan selanjutnya, upacara-upacara yang dilakukan, dan akhirnya kutukan-kutukan terhadap mereka yang tidak mentaati apa yang telah ditetapkan oleh sang raja. Usaha-usaha sosial semuanya itu memberi kesan, bahwa pemerintahan Sindok berlangsung dengan aman dan sejahtera. Salah satunya adalah Prasasti Cungrang, yang menyebutkan bahwa Mpu Sindok memerintahkan agar rakyat Cungrang yang termasuk wilayah Bawang, dibawah langsung Wahuta Tungkal untuk menjadi Sima (Tanah Pardikan) bagi pertapaan di Pawitra (Gunung Penanggungan) dan memeliharaan pertapaan dan prasada juga memperbaiki pawitra. Penanggalan dalam prasasti ini dikonversikan oleh Balai Arkeologi Jogjakarta dengan Hari Jum'at Pahing, tanggal 18 September 929 M. Di Pawitra (Gunung Penanggungan, Pasuruan) inilah Mpu Sindok memerintah kerajaannya.
Pada masa Mpu Sindok inilah ada sebuah kitab suci agama Budha yang terhimpun yaitu Sang Hyang Kamahaayaanikan yang menguraikan soal-soal ajaran dan ibadah agama Budha Tantrayana. Namun agama Sindok adalah agama Hindu sebagaimana dapat diketahui dari prasasti-prasastinya. Sindok memerintah bersama dengan permaisurinya, Sri Paramecrari Sri Wardhani Pu Kbi. Anehnya ialah, bahwa mula-mula Sindok tidak menggunakan gelar maharaja, dan hanya menyebut dirinya <Rakryan Sri Mahamantripu Sindok Sang Sricaanottunggadewawijaya>.Maka mungkin sekali ia telah menaiki takhta kerajaan karena perkawinannya dengan anak Wawa. Baru kemudian ia menggunakan gelar maharaja: Sri Maharaja Rake Hino Sri Icaana Wikramadharmottunggadewa.

Icanattunggawijaya dan Makutawangcawardhana

Sindok memerintah di Pasuruan sampai tahun 947. Pengganti-penggantinya yang dikeluarkan oleh Airlangga dan yang kini disimpan di Indian Museum di Calcutta (karena itu prasasti itu terkenal sebagai prasasti Calcutta). Demikianlah Sindok digantikan oleh anak perempuannya Sri Icanatunggawijaya, yang bersuamikan Raja Lokapala. Dari perkawinan ini lahirlah anak laki-laki, Makutawangcawardhana, yang digambarkan sebagai matahari dalam keluarga Icana. Tentang kedua raja pengganti Sindok tidak ada sesuatu keterangan lain lagi, kecuali bahwa Makutawangcawardhana mempunyai seorang anak perempuan yang cantik sekali, yaitu Mahendradatta atau Gunapriyadharmapati, dan yang bersuamikan Raja Udayana dari keluarga Warmadewa yang memerintah di Bali. Dharmawangsa (Hubungan Jawa dan Bali) 991 M - 1016 M

Pengganti Makutawangcawardhana adalah Sri Dharmawangsa Tguh Anantawikramottunggadewa. Tidak diketahui apakah raja ini saudara Mahendradatta dan dengan demikian termasuk keluarga Icana ataukah bukan. Dalam pemerintahan Dharmawangsa kitab Mahabharata disadur dalam bahasa Jawa Kuno. Dari 18 parwa yang ada, yang kini sampai kepada kita hanyalah 9, diantaranya Adiparwa, Wirataparwa (yang memuat nama raja dan angka tahun 996) dan Bhismaparwa. Pun ada disusun sebuah kitab hukum yang bernama Ciwacaasana (tahun 991). Dalam lapangan politik Dharmawangsa berusaha keras untuk menundukkan Sriwijaya, yang sementara itu merupakan saingan berat, karena menguasai jalan laut India-Indonesia-Tiongkok. Sesudah Balaputra berkuasa di Sumatra, tidak ada lagi sesuatu berita tentang Sriwijaya. Mungkin tenaga sedang dipusatkan kepada usaha memperkuat diri, sebab mulai tahun 904 ternyata Sriwijaya mengirimkan lagi utusan-utusannya ke Tiongkok dengan teratur pada waktu-waktu yang tertentu. Dalam hubungan ini berita yang menarik perhatian: Utusan yang datang dalam tahun 988 dan hendak pulang dua tahun kemudian, tertahan di Kanton sampai tahun 992. Sebabnya ialah karena negeri mereka sedang menghadapi serangan dari Jawa. Dalam tahun 992 utusan mencoba lagi untuk pulang, tetapi hanya dapat berlayar sampai Campa, karena berita yang mereka terima menyatakan bahwa Sriwijaya diduduki musuh. Keadaan perang yang menutup pintu-pintu Sriwijaya itu dibenarkan pula oleh utusan-utusan dari Jawa yang datang di Tiongkok dalam tahun 992 M.
Setelah Dharmawangsa berhasil menundukkan Sriwijaya, maka yang menjadi raja Sriwijaya adalah Sri Cudamaniwarmadewa. Tidak diketahui apakah raja ini ada hubungannya dengan keluarga Warmadewa dari Bali. Hal ini tidak mustahil, mengingat bahwa Dharmawangsa besar pula pengaruhnya di Bali. Dalam perasasti-prasasti nama Mahendradatta selalu didahulukan daripada nama sang Raja Udayana (Dharmodayana Warmadewa) sendiri, seakan-akan sang permaisurilah yang berkuasa. Tambahan pula, prasasti-prasasti Bali yang mula-mula ditulis dalam bahasa Bali kuno, sejak tahun 989 menunjukkan banyak pengaruh dari bahasa Jawa kuno, dan sesudah tahun 1022 M sebagian besar tertulis sama sekali dalam bahasa Jawa kuno.
Dalam tahun 1016 M kerajaan Dharmawangsa sekonyong-konyong mengalami pralaya (= kehancuran). Sang raja dan para pembesar Negara gugur dan menurut batu Calcutta seluruh Jawa bagaikan satu lautan. Dari pralaya ini dapat selamat dari musibah ini adalah Airlangga, anak Mahendradatta, yang waktu itu ada di Jawa dan telah kawin dengan anak Dharmawangsa. Apa sesungguhnya yang menjadi sebab dari pralaya ini tidak dapat dipastikan: hanya adanya perkataan <Raja Wurawari sewaktu keluar dari Lwaraam> pada prasasti Calcutta itu memberi kesan, bahwa kerajaan Dharmawangsa dimusnahkan oleh raja Wurawari tsb. Raja ini tidak dikenal dari keterangan lain manapun juga, maka ada dugaan bahwa yang berdiri di belakang sebenarnya adalah Sriwijaya.

Keluarga Warmadewa di Bali, 914 M - 1080 M

Keluarga raja-raja Warmadewa pertama kali muncul dalam sejarah pada tahun 914 M dengan adanya prasasti dari Sanur yang dikeluarkan oleh Sri Kesariwarmadewa. Raja ini kerajaannya di Singhadwaala, sedangkan raja-raja sebelumnya (dari keluarga lain) bertakhta di Singhamandawa. Salah seorang keturunan Kesariwarmadewa adalah Candrabhayasingha Warmadewa, yang dalam tahun 962 M membangun sebuah telaga dari sumber suci yang ada di desa Manukraya. Desa ini sekarang bernama Manukaya, dan pemandian suci itu adalah Tirtha Empul sekarang di dekat Tampak-siring.Sejak tahun 989 Bali diperintah oleh Sang Ratu Luhur Sri Gunapriyadharmapatni bersama suaminya Sri Dharmodayana Warmadewa. Seperti sudah kita ketahui, Gunapriyadharmapatni adalah anak Makutawangcawardhana dari Jawa Timur dan dalam prasasti-prasasti selalu disebut terlebih dahulu dari nama Udayana sendiri. Di sekitar tahun 1010 M Mehendradatta meninggal, dan dimakamkan di Burwan Kutri dekat Gianyar) serta diwujudkan sebagai Durga. Udayana memerintah sendiri sampai tahun 1022 M.Anak sulung Mahendradatta-Udayana adalah Airlangga yang dikawinkan dengan kemenakan sendiri di Jawa Timur, dan anak bungsunya adalah yang biasa menyebutkan dirinya Anak Wungsu saja. Airlangga nantinya menggantikan Dharmawangsa memerintah di Jawa Timur,dan Anak Wungsu memerintah di Bali dengan nama resmi:Sri Dharmawangcawardhana Marakatapangkajasthanottunggadewa.Rupa-rupanya Anak Wungsu tidak mempunyai keturunan, sebab isterinya terkenal dengan nama Bhatari Mandul dan sesudah masa pemerintahannya nama Warmadewa tidak lagi terdapat pada nama raja-raja Bali yang menggantikannya. Anak Wungsu meninggal di sekitar tahun 1080 M dan dimakamkan di Gunung Kawi (Tampaksiring). Dengan wafatnya raja ini habislah pula pemerintahan keluarga Warmadewa. Airlangga , 1019 M - 1042 M

Sudah kita ketahui, bahwa waktu kerajaan Dharmawangsa mengalami pralaya dalam tahun 1016 M Airlangga dapat meloloskan diri. Ia baru berusia 16 tahun, dan dengan disertai Narottama ia bersembunyi di Wanagiri ikut dengan para petapa. Dalam tahun 1019 M ia dinobatkan menjadi raja pengganti Dharmawangsa oleh para pendeta Budha, Siwa dan Brahmana. Sebagai raja ia bergelar Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawirkramottunggadewa, dan daerahnya hanya kecil saja. Sehabis pralaya kerajaan Dharmawangsa runtuh menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang masing-masing berdiri sendiri. Setelah Airlangga menjadi raja, kerajaan-kerajaan kecil itu ternyata tidak mau tunduk atau menggabungkan diri begitu saja.
Dalam prasastinya, yang kini tersimpan di Calcuta, Airlangga, menjelaskan asal usulnya, yaitu mulai dari Sindok. Di sini nampak pula usaha Airlangga untuk membenarkan kedudukannya sebagai raja yang sesungguhnya berhak atas wilayah dahulunya. Memang sejak tahun 1028 Airlangga mulai merebut kembali daerah-daerah yang diperintah Dharmawangsa. Mungkin saat dimulainya usaha itu ada hubungannya dengan kelemahan Sriwijaya yang baru saja mengalami serangan-serangan dari Colamandala (1023 M dan kemudian 1030 M).
Berturut-turut ditaklukkan Airlangga; Raja Bhismaprabhawa dalam tahun 1028 M - 1029 M, Raja Wijaya dari Wengker dalam tahun 1030 M, Raja Adhamapanuda dalam tahun 1031 M, seorang raja perempuan yang dikatakan seperti raksasa dalam tahun 1032 M, Raja Wurawari dalam tahun 1032 M dan akhirnya dalam tahun 1035 Raja Wengker, yang rupa-rupanya telah bangun kembali, sekali lagi. Setelah memperoleh kembali wilayah yang dianggap memang menjadi haknya, Airlangga berusaha memakmurkan rakyatnya. Dalam pemerintahan ia dibantu oleh pengikutnya yang setia, yaitu Narottama yang kini menjadi Rakryan Kanuruhan dan Niti sebagai Rakryan Kuningan. Ibukotanya, yang dalam tahun 1031 M terletak di Wwatan Mas karena hal ini ditandai tanaman sirih kuning (yang pada masa lalu disebut Wwatan Mas (wit-witan Masbrohon kuning) dan dalam tahun 1037 M dipindahkan ke Kahuripan (Malang). Pelabuhan Hujung Galuh di muara sungai Brantas diperbaiki, sedangkan pelabuhan Kambang Putih (Tuban) diberi hak-hak istimewa. Sungai Brantas, yang selalu menimbulkan kerusakan kalau banjir, kini diberi tanggul di daerah Wringin Sapta.
Ketentraman dan kemakmuran pemerintahan Airlangga nampak juga dari suburnya seni sastra; diantara hasil kesusastraan yang sampai kepada kita ialah kitab Arjunawiwaha yang dikarang oleh Mpu Kanwa dalam tahun 1030 M. Isinya ialah perkawinan Arjuna dengan bidadari-bidadari sebagai hadiah para dewa atas jerih payahnya mengalahkan raksasa-raksasa yang menyerang kayangan. Rupanya cerita ini disusun sebagai kiasan terhadap hasil jerih payah Airlangga sendiri, dan si penulis mempersembahkan karangan itu kepada sang raja.
Dari Arjunawiwaha dapat diketahui bahwa dewasa itu sudah dikenal wayang. Pun pada beberapa prasasti ada disebutkan jabatan <awayang>, atau <aringgit>. Keterangan tentang wayang ini adalah yang pertama kali kita jumpai. Tentunya wayang itu sudah sebelum Airlangga dikenal orang. Airlangga mempunyai seorang perempuan sebagai Mahamantri I hino, yaitu Sanggramawijaya, yang menduduki tempat tertinggi sesudah raja. Rupanya Sanggarmawijaya adalah anak sang raja sendiri, yang dicalonkan akan menggantikan menaiki takhta kerajaan. Akan tetapi setelah tiba masanya, puteri ini menolak menjadi raja dan memilih penghidupan sebagai petapa. Atas usaha Airlangga sendiri dibuatkanlah untuknya sebuah pertapaan di Pucangan (gunung Penanggungan Pasuruan), dan di sinilah Sanggarmawijaya menarik diri sebagai Kili Suci.
Timbullah kini kesulitan bagi Airlangga, oleh karena dengan kepergian puteri mahkota itu dua orang anaknya lagi yang laki-laki mungkin akan merebutkan takhta. Maka diputuskanlah dalam tahun 1041 M untuk membagi kerajaannya menjadi dua, dengan pertolongan seorang brahmana yang sangat terkenal akan kesaktiannya, ialah Mpu Bharada. Dua kerajaan itu ialah Janggala (Singhasari) dengan ibukotanya Kahuripan dan Panjalu (Kadiri) dengan ibukotanya Daha. Gunung Kawi ke Utara dan Selatan yang menjadi batasnya. Segera setelah membagi kerajaannya, Airlangga mengundurkan diri sebagai petapa dengan nama Resi Gntayu. Ia wafat dalam tahun 1049 M, dan dimakamkan di Tirtha, sebuah bangunan suci yang terdiri dari kolam-kolam lereng Timur Gunung Penanggungan Pasuruan dan yang terkenal sebagai Candi Belahan (Candi Sumbertetek). Ia diwujudkan sebagai Wisnu, menaiki Garuda, sebuah arca indah sekali yang kini disimpan di Museum Mojokerto. Semasa hidupnya, Airlangga memang dianggap sebagai titisan Wisnu dan yang menjadi lencana kerajaannya adalah Garudamukha. Lencana ini beberapa kali disebutkan dalam prasasti-prasasti Airlangga, dan sekali-sekali juga dinyatakan sebagai lukisan pada sisi atas prasasti.


Sumber :
http://warungkopipasuruan.blogspot.com/2011/03/pasuruan-dalam-peradaban-budha-dan.html