Tampilkan postingan dengan label Catatan Seorang Penyair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Seorang Penyair. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 September 2012

Manufacturing Hope 39 (Dari sakit hati ke proklamasi harga diri)

Sakit hati, ada kalanya sangat penting. Banyak orang sukses bermula karena sakit hati: kepada saudara, tetangga, teman, mantan pacar, mantan kongsi, atau kepada pesaing yang pernah mengalahkannya.
Sakit hati kadang juga menyangkut harga diri. Banyak orang sukses bukan karena ingin kaya, tapi karena tidak ingin harga dirinya diremehkan. Mereka ini golongan yang, setelah sukses, tidak kelihatan menikmati kekayaannya untuk kemewahan hidupnya.
Sakit hati juga biasa datang dari orang pandai yang merasa kepandaiannya tidak dimanfaatkan. Bisa juga datang dari orang yang merasa terjajah, yang kemudian ingin mengalahkan bekas penjajahnya.
Bisakah sakit hati dilakukan secara berjamaah? Oleh satu kelompok? Agar kelompok itu sukses secara bersama-sama? Bisakah sakit hati dilakukan secara nasional? Sehingga bangsa itu secara keseluruhan bisa sukses?
Sebagai orang yang pernah sakit hati, saya mencoba mengumpulkan banyak orang yang sudah lama sakit hati. Yakni para engineer yang selama ini bekerja di perusahaan-perusahaan . Mereka inilah yang merasa sakit hati setiap kali melihat kemampuan mereka diremehkan.
Salah satu puncaknya adalah saat mereka melihat proyek pembangkit listrik 10.000 MW. Mereka mempertanyakan: mengapa untuk pembangkit yang sekecil 2×7 MW pun harus mentah-mentah didatangkan dari Tiongkok? Apalagi ketika pada akhirnya proyek itu sama sekali tidak bisa dikatakan murah -oleh berbagai sebab, termasuk penyebab dari dalam negeri.
Rabu pagi tanggal 8 Agustus 2012 lalu, mereka berkumpul di aula kantor pusat . Selama ini mereka benar-benar sakit hati.
Hanya saja mereka cuma berani mengeluhkannya secara diam-diam dan sendiri-sendiri. Mereka adalah kelompok sakit hati yang meskipun tidak destruktif tapi juga tidak aktif. Mereka pada dasarnya “sakit hati, tapi setengah tidak berdaya”.
Padahal kemampuan mereka luar biasa. Asal ada yang mempersatukan dan mengkoordinasikan.
Selama ini mereka kurang diberi kesempatan sehingga kapasitas itu tercerai-berai di berbagai BUMN. Mereka bukan saja tidak bersinergi, bahkan sering saling jegal!
Lihatlah pabrik di Pasuruan ini. Siapa yang menyangka bahwa BUMN yang kelihatan setengah sekarat itu –PT Boma Bisma Indra (BBI)- mampu membuat kondensor. Alat yang menjadi bagian sangat penting dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Waktu saya berkunjung ke PT BBI Pasuruan tiga minggu lalu tiga kondensor sudah terlihat jadi. Siap diekspor ke Eropa. Kondensor itu memang dipesan oleh pabrikan besar di Eropa. Untuk dipasang di PLTU di seluruh dunia.
Tapi PT BBI sedang kelimpungan. Ini akibat buruknya di masa-masa yang lalu. Utangnya ke sudah selama 10 tahun! Bunga dan dendanya terus menggunung. Assetnya banyak tersandera sebagai jaminan bank yang tidak bisa diapa-apakan. Perusahaan ini di-blacklist oleh bank mana pun.
PT BBI juga masih punya utang dagang pada PT Krakatau Steel (KS) yang sangat besar. Juga sudah macet lebih 10 tahun. Sebagian asset PT BBI juga ditahan oleh KS sebagai jaminan sehingga tidak bisa digerakkan.
Akibatnya, kemampuan yang tinggi yang dimiliki para ahli dan karyawan PT BBI tersandera oleh keadaan perusahaan yang ‘termehek-mehek’. Mereka sakit hati dan frustrasi. Ahli tapi tidak berdaya.
Mereka ahli membuat kondensor, boiler, pabrik kelapa sawit, dan pekerjaan engineering lainnya, tapi mereka tidak ahli dalam menyelesaikan problem utang macet yang membelit perusahaannya.
Maka saya bersyukur ketika Dirut PT BBI yang sekarang, Dr Ir Lalak Indiyono, punya ide brilian untuk menguraikan benang kusut itu. Dengan skema yang cerdas, akhir tahun ini saya targetkan benang kusut tersebut sudah harus selesai. Agar tahun depan sudah bisa berlari, mengubah sakit hati menjadi ‘balas dendam’ untuk kemajuan bersama.
Dalam forum rapat akbar engineering BUMN Rabu lalu itu, Dirut PLN, Ir Nur Pamudji, juga menawarkan pembangunan 30 unit PLTU di seluruh Indonesia. Terutama yang ukurannya 20 MW ke bawah. PLTU-PLTU ini harus dibangun sepenuhnya oleh putra-putra bangsa sendiri. Baik BUMN maupun BUMN dan swasta nasional.
Inilah “Proyek 30 PLTU Merah Putih”, yang kami proklamasikan menjelang perayaan 17 Agustus 2012 untuk segera dikerjakan.
Pembagian tugas pun diputuskan: turbin dibuat PT NTP Bandung, anak perusahaan PT Dirgantara Indonesia. Dengan membuat 30 turbin sekaligus, para engineer di PT NTP akan sibuk dan bisa mencapai skill yang tangguh.
Generatornya dibuat oleh PT Bandung. Membuat 30 generator sekaligus bisa sangat efisien. Boilernya dibuat PT Barata . PT BBI membuat kondensornya. Dan PT Wika membangun sipilnya. Secara teknik, perusahaan-perusahaan BUMN tersebut benar-benar mampu mengerjakannya.
Selama ini mereka terserak, tidak terkoordinasi, dan bahkan saling menjatuhkan.
Dalam forum itu para engineer BUMN juga memproklamasikan “Pabrik Merah Putih”. BUMN memang akan membangun pabrik baru di Glenmore, Banyuwangi. Pabrik baru yang akan menjadi yang terbesar di Jawa itu, 100 persen akan made in Indonesia!
Kalau proyek ini sukses (dan harus sukses) maka revitalisasi pabrik-pabrik gula tua di seluruh Indonesia akan dikerjakan sendiri oleh putra-putra bangsa.
Alangkah akan sibuknya para engineer kita. Alangkah hidupnya pabrik-pabrik rekayasa permesinan kita. Alangkah berkembangnya kemampuan insinyur-insinyur kita.
Belum lagi proyek monorail Jakarta yg mangkrak sejak lebih 10 tahun lalu itu. Kalau Gubernur Jakarta mengeluarkan izinnya, satu BUMN yang selama ini banyak dosanya, PT , akan menebus dosanya itu dengan pengabdian nyata.
Monorail Jakarta itu akan selesai dalam 26 bulan. Adhi Karya akan didukung dua BUMN lainnya, PT LEN untuk sistem elektroniknya dan PT INKA untuk keretanya. Maka begitu pilkada selesai izin akan diajukan.
Yang masih akan dirumuskan adalah: bagaimana agar putra-putra bangsa juga bisa segera memiliki kemampuan mengerjakan proyek petrochemical dan oleochemical. Sedang untuk teknologi hidrogen dan fuel cell yang kelak akan jadi alternatif sumber tenaga untuk juga sedang dirancang.
Kita sudah punya ahli fuel cell yang kini bekerja di BPPT dan di LIPI. Mereka sudah setuju untuk membuat prototipe fuel cell pertama di Indonesia, dengan biaya BUMN PT Batantek pimpinan Dr Ir Yudiutomo Imardjoko. Dua ilmuwan hebat akan berkolaborasi untuk energi masa depan Indonesia.
Maka dalam enam bulan, kita akan bisa melihat apakah Dr Ir Ennya Lestyani Dewi yang sekolah S1 sampai S3-nya di Jepang (atas biaya BJ Habibie) itu bisa melahirkan teknologi fuel cell Indonesia.
Tentu ilmuwan-ilmuwan energi masa depan lainnya yang belum saya ketahui dimohon bergabung ke sini.
Seperti yang sudah dibuktikan minggu lalu, salah satu putra bangsa kita juga sudah berhasil membuat prototipe permanent magnetic motor pertama di Indonesia. PMM 25 kv itu sdh terbukti berhasil dipasang di listrik buatan Pindad dan berfungsi dengan sempurna.
Untuk teknologi fuel cell pun, saya melihat di balik jilbab Dr Ennya Lestyani Dewi, putri Secang, Magelang, ini menyinarkan otak encernya.
Saat ini, dari Makkah saya berdoa untuk Dr Ennya yang lagi merancang teknologi fuel cell-nya.
Sakit hati, kelihatannya memang perlu sering-sering terjadi. Asal terbuka penyalurannya.
(*) Menteri BUMN

Manufacturing Hope 40 (Membenahi “Petruk bermotor” untuk Merak)

Jakarta (ANTARA News) – Ini kisah tentang seorang pemimpin baru. Pemimpin yang levelnya kelas menengah, sehingga bisa kena petir dari atas dan kena bara dari bawah.
Ini kisah seorang pemimpin kelas menengah yang dalam posisinya yang tanggung, harus melakukan pembenahan, perombakan, dan perbaikan. Ini kisah seseorang yang sebenarnya hanya manajer, tapi karena tindakannya jadilah dia seorang pemimpin. Kisah ini bermula dari krisis keadaan.
Tentu masih ingat keruwetan tiga bulan lalu. Keruwetan di pelabuhan penyeberangan . Banyak kapal feri rusak. Dermaga tidak kunjung selesai diperbaiki. “Petruk” ada di mana-mana. Antrean yang hendak  menyeberang ke Sumatera “mengular kobra”. Bahkan sampai ke . Berkilo-kilo meter. Berhari-hari. Ruwet. Kisruh.
Banyak yang pesimistis keadaan bisa segera diurai. Padahal tidak lama lagi musim mudik Lebaran tiba. Alangkah amburadulnya mudik Lebaran itu nanti.
Menteri Perhubungan, Pak Mangindaan, beserta seluruh jajarannya, sampai harus terjun ke lapangan. Dirut PT Indonesia Ferry (Persero), Danang S Baskoro, turun tangan langsung. Kami (Kemenhub + Kementerian ) sepakat untuk mengatasi bersama tanpa saling lempar tanggung jawab. Rakyat tentu tidak mau tahu siapa punya tugas apa. Rakyat tahunya hanya satu: pemerintah.
Kami pun sepakat bersama-sama memberikan dukungan pada ASDP. Bukan hanya untuk mengurai keruwetan hari itu, tapi juga sekaligus mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terulang di hari yang lebih krusial: mudik Lebaran. Bayangkan kalau keruwetan itu berlanjut ke hari Lebaran. Alangkah marahnya pengguna jasa penyeberangan.
Direksi ASDP sampai pada kesimpulan: harus ada pemimpin baru di Merak. Persoalan di Merak sudah menggurita sehingga tambal sulam akan kalah oleh gurita persoalan. Direksi ASDP memilih satu nama ini: Supriyanto. Dia dinilai berhasil membenahi penyeberangan Gilimanuk-Banyuwangi. Kali ini ditugasi membenahi Merak.
Karir Supriyanto di ASDP cukup panjang. Bahkan berliku. Ia pernah sakit hati lantaran jadi korban gurita di masa lalu. Dia dibuang ke Kalbar dengan level turun tiga tingkat.
Tapi dia tumpahkan sakit hatinya pada pekerjaan. Dia buat penyeberangan di Kalbar dari rugi menjadi untung. Dalam waktu hanya enam bulan. Tentu  banyak yang tidak senang. Terutama yang kehilangan obyekan. Dia pun tidak peduli dengan ancaman: santet maupun parang.
Apa yang pertama-tama dia lakukan saat diterjunkan ke Merak yang begitu ruwet? Pelajaran apa yang bisa diberikan kepada jajaran tingkat menengah di semua BUMN?
“Saya awali tugas di Merak dengan mengambil alih apel pada setiap pergantian regu. Selama tujuh hari berturut-turut,” jelasnya. Apel ini wajib diikuti oleh semua karyawan/karyawati organik, outsourcing, security, dan cleaning service.
“Saya sampaikan bila mereka melakukan penyimpangan, saya tidak akan segan-segan memberikan sanksi,” katanya. Dia pernah men-skors 33 orang yang membandel di Ketapang. Tentu seluruh direksi ASDP juga terjun ke Merak lebih intensif. Demikian juga pengawasan dari Kemenhub. Mulai dari menteri, wamen, sampai dirjen.
Tapi tanpa komandan lapangan yang tangguh sulit membayangkan bisa dilakukan pembenahan keadaan yang begitu ruwet. Alhamdulillah, sejak 11 Juni 2012 antrian truk yang biasanya mengular panjang sampai di jalan tidak terjadi lagi. Tapi di balik itu bukan tidak ada cerita. Misalnya kisah dipotongnya atap loket nomor 4 dan 5.
Di masa lalu, untuk memotong atap seperti itu saja diperlukan proses keputusan yang panjang. Usulan harus diajukan, dianggarkan dan dibahas. Belum tentu pula disetujui. Padahal yang membahas dan yang harus menyetujui belum tentu merasakan dampak atap itu pada kelancaran arus kendaraan. Hanya yang sehari-hari di situlah yang lebih tahu.
Supriyanto langsung ambil risiko: dia potong atap loket no 4 dan 5 itu. Hasilnya, truk bisa dilayani di dua loket itu. Sungguh sepele tapi selama ini dibuat ruwet. Di masa lalu tindakan manajer seperti ini bisa disalahkan. Bisa dianggap melanggar prosedur. Bahkan bisa dipakai alasan untuk menyingkirkannya!
Sebagai orang lama ASDP, Supriyanto paham benar ini: untuk mendapatkan persetujuan tidaklah mudah. Maka untuk yang satu ini pun dia tidak menunggu persetujuan: menambal sendiri jalan masuk yang berlubang-lubang. Jalan yang berlubang dia lihat menjadi salah satu penyebab macetnya antrean truk di Merak. Lihatlah: memotong atap dan menambal jalan berlubang. Alangkah dianggap sepelenya problem seperti ini dalam sebuah manajemen.
Supriyanto juga memutuskan sendiri pembuatan cainstein (beton pemisah) jalur keluar  dari side ramp Dermaga III dan MB Dermaga II. Agar tertata rapi. Jika tetap menggunakan barier gate seperti selama itu, akan sering ada truk bersenggolan dan terjadilah keruwetan.
Tentu tidak mudah jalan bagi pemimpin baru yang banyak action seperti itu. Apalagi saat dia sampai pada kesimpulan harus mengganti manajer operasi. Penentangan pun datang dari atas dan bawah. Dari luar dan dari dalam. Tidak hanya penentangan tapi juga ancaman. Tapi Supriyanto tetap melantik Nana Sutisna sebagai manajer operasi yang baru.
Dengan tim yang baru Supriyanto mulai membenahi jantung persoalan. Dia sangat tahu, Merak adalah penyeberangan yang banyak pungli, semrawut, kotor, dan kumuh.
Lebih parah lagi, pengaturan muatan kapal sebenarnya dikendalikan oleh orang luar! Di Merak mereka biasa disebut petruk (pengurus truk). Petruklah yang dengan leluasanya berlalu lalang keluar masuk pelabuhan melalui toll gate dengan menggunakan sepeda motor.
Petruk naik motor! Tidak ada yang berani melarang. Kesannya di Merak ini tidak memliki aturan. “Saya memiliki rasa optimis dan keyakinan yang kuat bahwa Merak dalam satu tahun menjadi yang terbaik di Indonesia,” ujar Danang S Baskoro, yang bangga pada anak buahnya itu.
Danang sendiri terjun langsung di Merak selama Lebaran, tapi kini dia disertai komandan lapangan yang lebih bisa diandalkan. Maka kalau selama mudik Lebaran tahun ini Merak banyak dipuji orang, pembenahan mendasar memang dilakukan di sana. Direksi ASDP Indonesia Ferry sedang menyiapkan yang lebih besar lagi untuk kebanggaan baru di Merak.
*, Menteri BUMN

Motivasi Ary Ginanjar Agustian


 
”Ketika kita hanya sibuk menghitung-hitung berapa besar keuntungan dari apa yang kita berikan pada orang lain, maka hanya sebesar itu sajalah yang kita dapatkan. Namun Jika kita memberi, menolong, berbuat baik tanpa berhitung-hitung, maka percayalah Allah telah siapkan rizki bagi kita, rizki yang luasnya seluas langit dan bumi ya”
Salam165
Ary Ginanjar Agustian

(。◕‿◕。)

Anak sulung saya Anjar, yang IPnya pas-pasan itu pergi mengikuti sebuah pelatihan remaja di Negeri Paman Sam bersama teman-teman kuliahnya beberapa bulan lalu. Saya memberinya bekal sebesar 500 US Dollar untuk berbagai keperluannya selama di sana dan 500 US Dollar lagi untuk cadangan apabila ada biaya tak terduga. Saya wanti-wanti agar dia kembalikan uang cadangan itu apabila tidak terpakai.
Ketika dia pulang, saya sengaja tidak menanyakan tentang bagaimana sulung saya ini menggunakan uangnya. Saya sempat berpikir bahwa ia menggunakan semua uang yang saya berikan untuk keperluannya karena tidak ada yang mengawasi. Namun beberapa hari kemudian ia menyerahkan kembali uang 500 Dollar-nya sambil berkata, “Pak, ini uangnya Anjar kembalikan karena selama di sana tidak ada keperluan di luar rencana yang urgen. ”
Wah, padahal bisa saja dia pergunakan semua uang bekalnya dengan berbagai alasan logis yang pasti saya tidak akan mampu menolak. Atau habiskan saja anggaran tersebut toh memang sudah menjadi jatah dia. Dengan alasan bahwa banyak kebutuhan yang urgen dan ada keperluan yang tidak terduga selama di Amerika.
Anjar telah mempergunakan kecerdasan spiritualnya. Apabila dia hanya mempergunakan kecerdasan intelektualnya semata pasti dia akan sangat mampu membuat laporan keuangan yang “WTP” alias wajar tanpa pengecualian. Apalagi dia kuliah di jurusan Administrasi Niaga Universitas Indonesia, lalu ditambah dengan kecerdasan emosionalnya untuk melobby. Tentu sangat mudah baginya untuk memperdayai saya, karena semua sesuai aturan, semua sesuai prosedur, semua sesuai sistem, dan bisa diterima akal sehat.


Lalu saya mencoba membayangkan lagi berapa puluh atau berapa ratus trilyun atau mungkin berapa ribu trilyun harga atau nilai “spiritual capital” atau nilai sebuah microchip ciptaan Tuhan itu apabila dikonversikan dengan akibat kebocoran dan kesengsaraan di sana-sini. Belum lagi keputusan-keputusan yang dibuat demi kepentingan diri dan kelompok, seperti halnya proyek-proyek, aturan pertambangan dan perdagangan yang membuat asset bangsa tersedot keluar dengan kekuatan arus raksasa. Atau berapa banyak potensi yang menjadi sia-sia akibat kemiskinan spiritual bangsa ini, sehingga melahirkan sebuah iklim saling curiga dan saling tidak percaya yang dinamakan “low trust society”.
Modal kejujuran pun sesungguhnya ada tiga jenis. Pertama, kejujuran intelektual, yaitu jujur karena otak dan skill, contoh seseorang ahli memberikan laporan keuangan dengan benar sehingga masuk kategori wajar tanpa pengecualian (WTP). Kedua, kejujuran emosional yaitu seseorang yang jujur didorong oleh motivasi ingin dilihat oleh atasan, atau karena motivasi ingin penghargaan dan pengakuan publik.
Ketiga, kejujuran spiritual. Yaitu sebuah kejujuran asli yang lahir bukan dilahirkan karena sistem pengawasan atau GCG, atau karena laporan keuangan yang WTP. Karena kejujuran ini berada dalam dimensi spiritual, yang melahirkan nilai kejujuran hakiki dan muncul menjadi perilaku. Kejujuran ini lahir dari sisi terdalam pada belief system manusia pada dimensi spiritualitas.
Inilah yang dinamakan modal spiritual atau Spiritual Capital, yaitu sebuah modal penting yang harus dipertimbangkan sebagai salah satu kekuatan di dalam membangun sebuah korporasi, birokrasi, ekonomi, dan kehidupan negara yang sehat dan damai.
Dr. H. C Ary Ginanjar Agustian
Tayang di :
Indopos & www.esq-news.com

(。◕‿◕。)

“The real role of the leader is to manage the values of the corporation.” (Tom Peters, “In Search of Excellence: Lessons from America’s best run companies”, 1983)
Belakangan ini wacana mengenai pen­tingnya budaya perusahaan makin mengemuka. Banyak perusahaan yang melakukan upaya-upaya untuk membenahi budaya perusahaannya dari mulai mengirim staf Sumber Daya Manusia (HR) ke training-training tertentu, merombak visi-misi perusahaan, memasang poster-poster yang berisi value perusahaan, dan lain-lain.
Meski berbagai hal di atas telah dilakukan, namun ter­nyata masih banyak perusahaan yang seolah jalan di tempat. Kinerja perusahaan tetap tidak terdongkrak. Apa faktor pe­nyebabnya? Dave Ulrich konsultan HR (Human Resource) mengatakan bahwa peran pe­mimpin sangat besar terhadap keberhasilan perusahaan mencapai 40%, sedangkan yang lainnya yaitu nilai berperan 25% sedangkan sistem 35%.
Ketiga hal di atas, kami namakan VSL Concept: yaitu mem­bangun sistem yang di­dahului dengan pemba­ngun­an nilai atau value, dan dilanjutkan de­ngan membangun sys­tem dan dilengkapi dengan pembangunan leadership. Arti­nya tidak cukup merumus­kan atau mempropagandakan value ser­ta membangun system tanpa diiringi dengan role model dari para pimpinan perusahaan (leadership). Menjadikan pa­ra pimpinan contoh dari imple­mentasi misi, visi dan nilai sehingga menunjukkan bahwa misi, visi dan nilai itu adalah sesuatu yang penting dan harus dipegang teguh dalam menjalankan roda perusahaan.
Jika perusahaan belum memiliki nilai dan budaya, seluruh pimpinan harus berperan sebagai value builder yaitu membangun nilai-nilai perusahaan. Tony Hsieh, CEO Zappos, adalah contoh pemimpin perusahaan sebagai value builder. Dia benar-benar terlibat dalam perumusan dan membangun budaya perusahaan. Selanjutnya Tony Hsieh juga sangat berusaha agar nilai-nilai perusahaan tetap terjaga.
Menurutnya melindungi budaya perusahaan dan tetap menjalankan core values akan memberikan keuntungan jangka panjang. Karena itu, demi kepentingan jangka panjang tersebut Zappos bersedia melaukan pengorbanan jangka pendek —termasuk kehilang­an profit— karena mereka percaya membangun budaya dan menjaga nilai perusahaan dapat men­datangkan keuntungan jangka panjang.
Selanjutnya secara pri­­badi para pemimpin menjalankan nilai tersebut serta menanam­kan nilai-nilai tersebut kepa­da seluruh karyawan. Penegak­an nilai harus dijaga para pe­mimpin baik dalam diri me­reka maupun karyawan agar nilai tersebut hidup dan berkembang seiring dengan per­tumbuhan perusahaan. Di­­harapkan corporate values selalu hidup bersama perusaha­an bahkan sampai puluhan tahun ke depan bahkan jika bisa sampai ratusan tahun.
Pemimpin dan Entropi Budaya
Penelitian menunjukkan adanya korelasi yang jelas antara pemimpin dengan entropi budaya organisasi. Sebagaimana sudah dijelaskan pada artikel terdahulu bahwa Entropi Budaya adalah meng­ukur energi yang terbuang percuma di tempat kerja.
Entropi budaya organisasi, korporasi atau instansi se­sungguhnya adalah refleksi langsung dari entropi pribadi sang pemimpin itu sendiri. Cara untuk mengurangi warisan entropis pemimpin masa lalu adalah dengan melakukan: de-layering, re-strukturisasi, dan de-birokratisasi dan trans­formasi budaya.
Keterlibatan pemimpin je­las menjadi faktor kunci kesuk­sesan perusahaan, khususnya untuk menghidupkan nilai tersebut secara mendalam dan holistik. Jika tidak dimulai dan ditegakkan para pemimpinnya, nilai-nilai perusahaan tidak akan tercipta menjadi sebuah budaya perusahaan. Karena itulah sering dikatakan bahwa “Leaders must be able to make the values alive”.
Karena itulah wacana transformasi budaya tidak akan terealisasi tanpa keterlibatan para pemimpinya. Berbagai upaya seperti training, jasa konsultan, pemasangan poster tentang visi-misi-nilai perusahaan di berbagai sudut kantor tidak akan berhasil baik jika pemimpin tidak terlibat sebagai motor penggerak. Karena itu Prof. Richard Barrett mengatakan, “Organisasi tidak bertransformasi hingga para pemimpinnya memiliki nilai yang baru dan mengubah perilaku mereka.”•
ACT Consulting
Jl. Ciputat Raya No. 1B Pondok Pinang, Jakarta 12310
Telp. (021) 7696654 Fax. (021) 7696645
Email: act.consulting@esqway165.com
Sumber: http://esq-news.com/2012/berita/03/19/peran-pemimpin-dalam-transformasi-budaya.html


Motivasi SUPER Mario Teguh

 
 
"Orang bodoh dikalahkan oleh orang pandai.
Orang pandai dikalahkan oleh orang cerdik.
Orang cerdik dikalahkan oleh orang licik.
Orang licik dikalahkan oleh orang nekad.
Orang nekad dikalahkan oleh orang gila.

Dan semua orang itu, dikalahkan oleh orang yang beruntung.

Karena, orang yang beruntung itu DI-beruntungkan oleh Tuhan, karena kedekatan denganNya.

Mario Teguh – Loving you all as always

MTGW – Jangan Hanya Jadi Wayang"— Mario Teguh
 
(。◕‿◕。)
 
"Orang yang naik pangkat adalah orang yang tidak pantas lagi bagi jabatannya.

Maka, segera setelah Anda naik pangkat, belajar dan bekerjalah untuk menjadi tidak pantas lagi bagi jabatan itu.

Setelah itu, naik adalah konsekwensi logis."
Mario Teguh 

(。◕‿◕。)
 
"Setiap orang sedang hidup di dalam nasibnya.

Hari perhitungan sudah terjadi. Nasib adalah keadaan kita sekarang, yang dihitung dari cara hidup kita."
Mario Teguh

(。◕‿◕。)

"Semua orang yang bersabar dalam kesusahan dan kekurangan, akan baik hidupnya. Jangan ragukan itu."
-Mario Teguh-