Spesies
cacing ini ditemukan di lokasi pertambangan tua yang ditinggalkan dan
telah menjadi TPS di Cwmystwyth, Wales oleh para peneliti dari
Universitas Reading, dipimpin oleh Mark Hodson. Ia mengatakan kalau
cacing-cacing tersebut memakan logam apa saja yang mereka temui, dan
logam tersebut entah bagaimana membantu perkembangannya.
“Para
cacing ini terlihat mampu mentoleransi logam berat dengan konsentrasi
sangat tinggi, dan logam ini tampak pula mengendalikan evolusi mereka,” tambah Mark.
Dan
bagian terbaiknya? Mereka hanya memakai racun terganas dalam logam ini,
arsen dan timbal, untuk bertahan. Jadi mereka pada dasarnya mereka
membuat logam versi bebas racun. Efek pemurni cacing ini adalah tanah
yang mereka hasilkan – yang sebelumnya boleh diberi tanda tengkorak dan
tulang bersilang – dapat menopang kehidupan tanaman; sendirian mereka
menghidupkan kembali seluruh daerahnya.
Walau
begitu, kadar racun partikel logam dalam kotoran ini dalam jangka
panjang belum diketahui karena selubung protein pelindungnya akan
mencair seiring berjalannya waktu.
Ada dua spesies lagi kemudian ditemukan di Inggris barat daya. Sekarang ada tiga cacing super yang benar-benar baru dalam sains.
Penyelidikan
tim Mark menggunakan sinar-x untuk menyirami cacing dengan cahaya
tajam, memungkinkan mereka melacak partikel logam seribu kali lebih
kecil dari sebiji garam. Para peneliti mengatakan kalau para cacing ini
menemukan cara cerdas untuk mengubah unsur logam inert dalam tubuh
mereka, dengan melapisi tiap partikelnya dengan sebuah protein khusus,
yang mencegah kimiawi ini berinteraksi dengan bagian dalam tubuh sang
hewan.
Tujuan jangka panjangnya adalah
menternakkan dan melepaskan cacing-cacing ini di lokasi tercemar untuk
mempercepat proses pembangunan tanah dan membantu memicu rehabilitasi
ekosistem, kata Mark.
“Pada gilirannya
tanaman yang tumbuh dari tanah produksi cacing ini akan menjadi sangat
efisien sehingga anda dapat menggunakannya sebagai sumber logam dalam
proses industri,” kata Mark. “Jadi anda tinggal mencabut tanamannya dan
membawanya ke pabrik untuk diproses.”
Peneliti lain, Peter Kille mengatakan, cacing ini dapat menjadi alat diagnosa konsentrasi logam di lahan tercemar.
“Apa
yang menarik adalah bahwa tiap jenis logam berat menciptakan peristiwa
evolusi yang unik,” tambahnya. Cacingnya mengembangkan cara baru
berhadapan dengan logam itu atau mencari solusi yang sama dengan
populasi lain.
Artikel Terkait
Cita-Cita Kecil Si Anak Desa
- Fun with Kimia : Antara Kripton dan Superman
- Tips Melamar Pekerjaan dan Membangun Karir untuk Fresh Graduate
- Tips Mengatasi Grogi Saat Presentasi
- Cara Mengatasi Penyakit Malas
- Mencegah dan Mengatasi Penyakit Remaja di Era Globalisasi
- Remaja Kurang Tidur Risiko Kena Penyakit Jantung
- 6 Penyakit Yang Mengincar Anak Remaja
- Makanan Yang Baik Untuk Dikonsumsi Di Usia 40 Tahun
- Mengantuk Setelah Makan Siang, Bisa Jadi Kurang Vitamin D
- Cara Membedakan Makanan Berformalin dan Tidak Berformalin
- Cinta Terlarang Elektron
- Menambahkan Musik Autoplay di Blog
- Biodiesel dari Minyak Jelantah
- Bioetanol dari Jagung
- Bioetanol dari Pisang
- Bioetanol dari Singkong
- Kalender Tahun 2013 EGA Forever
- Tulisan untuk Ayah
- Teori Asam Basa
- Prinsip Titrasi Asam Basa
- Beasiswa 2013 dari Pemerintah Perancis
- Ledakan Sinar-Gamma Menyingkap Susunan Kimiawi yang Tak Terduga pada Galaksi-galaksi Awal
- Bagaimana Ilmuan Merekonstruksi Lingkungan Purba
- Bahan Bakar Fosil
Tidak ada komentar:
Posting Komentar